Pengantar Bab IX
Pada bab-bab sebelumnya, kita telah melihat bagaimana Rasulullah ﷺ menetapkan kriteria orang yang paling berhak menjadi imam salat. Kita juga telah membahas bahwa ilmu harus mendahului kepemimpinan dan bahwa amanah harus diberikan kepada orang yang benar-benar ahlinya.
Namun, pertanyaan berikutnya menjadi lebih luas: Apakah prinsip-prinsip tersebut hanya berlaku dalam penetapan imam salat, ataukah ia merupakan bagian dari konsep kepemimpinan yang lebih besar dalam Islam?
Untuk menjawabnya, kita perlu kembali kepada sumber utama petunjuk Islam, yaitu Al-Qur'an.
Al-Qur'an tidak hanya memberikan hukum, tetapi juga menghadirkan kisah para nabi sebagai pelajaran bagi manusia. Di dalam kisah Nabi Adam, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Yusuf, Nabi Dawud, dan Nabi Sulaiman 'alaihimus salam, terdapat berbagai gambaran tentang ilmu, amanah, kompetensi, keadilan, ketakwaan, dan hikmah dalam menjalankan kepemimpinan.
Dari sinilah kita dapat melihat bahwa penetapan imam salat oleh Rasulullah ﷺ bukanlah aturan yang berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari pendidikan Islam yang lebih luas tentang bagaimana sebuah amanah kepemimpinan seharusnya diberikan.
Bab ini mencoba melihat kepemimpinan dalam Al-Qur'an melalui kisah para nabi, kemudian menghubungkannya dengan prinsip penetapan imam salat yang telah kita bahas pada bab-bab sebelumnya.
BAB IX
KEPEMIMPINAN DALAM AL-QUR'AN
Pelajaran
dari Para Nabi tentang Kriteria Pemimpin Menurut Wahyu
"Sesungguhnya kisah-kisah
mereka itu mengandung pelajaran bagi orang-orang yang berakal."
(QS. Yusuf: 111)
Pendahuluan
Setelah pada bab-bab sebelumnya
dibahas kriteria imam salat berdasarkan hadis-hadis Rasulullah ﷺ, prinsip ilmu sebelum kepemimpinan, serta
kewajiban menyerahkan amanah kepada ahlinya, pembahasan berikutnya diarahkan
kepada sumber utama ajaran Islam, yaitu Al-Qur'an.
Al-Qur'an bukan hanya kitab petunjuk
yang berisi hukum-hukum syariat, tetapi juga memuat kisah para nabi dan rasul
yang dipilih Allah Ta'ala untuk memimpin umat manusia. Kisah-kisah tersebut
bukan sekadar catatan sejarah, melainkan pelajaran yang mengandung
prinsip-prinsip kepemimpinan yang berlaku sepanjang zaman.
Allah Ta'ala berfirman:
لَقَدْ
كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا
يُفْتَرَىٰ وَلَٰكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ
وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
"Sungguh, pada kisah-kisah
mereka terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal. Al-Qur'an itu bukanlah
cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan kitab-kitab sebelumnya, menjelaskan
segala sesuatu, menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman."
(QS. Yusuf: 111)
Oleh sebab itu, untuk memahami
konsep kepemimpinan dalam Islam secara utuh, seorang Muslim tidak cukup hanya
membaca teori atau pengalaman manusia. Ia harus kembali kepada petunjuk
Al-Qur'an, sebab Allah-lah yang paling mengetahui siapa yang layak memimpin dan
sifat-sifat apa yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin.
Apabila hadis tentang imam salat
diperhatikan dengan saksama, tampak bahwa Rasulullah ﷺ
menetapkan ukuran-ukuran objektif dalam memilih imam, seperti ilmu, bacaan
Al-Qur'an, pemahaman terhadap As-Sunnah, serta berbagai keutamaan lainnya.
Prinsip yang sama ternyata telah diajarkan Allah melalui kisah para nabi.
Dengan demikian, pembahasan dalam
bab ini akan menunjukkan bahwa konsep kepemimpinan dalam Al-Qur'an dan hadis
merupakan satu kesatuan yang saling menguatkan.
9.1 Kepemimpinan Nabi Adam 'Alaihissalam: Ilmu
Didahulukan Sebelum Amanah
Pembahasan tentang kepemimpinan
dalam Al-Qur'an dimulai sejak penciptaan manusia pertama, yaitu Nabi Adam
'alaihissalam.
Allah Ta'ala berfirman:
وَإِذْ
قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا
أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ
بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
"Ingatlah ketika Tuhanmu
berfirman kepada para malaikat, 'Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang
khalifah di bumi.' Mereka berkata, 'Apakah Engkau hendak menjadikan di sana
orang yang akan berbuat kerusakan dan menumpahkan darah, sedangkan kami
senantiasa bertasbih memuji-Mu dan menyucikan-Mu?' Allah berfirman,
'Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.'"
(QS. Al-Baqarah: 30)
Ayat ini merupakan ayat pertama
dalam Al-Qur'an yang berbicara tentang amanah kepemimpinan manusia di bumi.
Allah menggunakan istilah خَلِيفَةً
(khalifah), yaitu manusia yang diberi amanah untuk memakmurkan bumi sesuai
dengan petunjuk-Nya.
Menariknya, sebelum Nabi Adam
menjalankan amanah tersebut, Allah terlebih dahulu memberikan bekal yang paling
penting, yaitu ilmu.
Allah Ta'ala berfirman:
وَعَلَّمَ
آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ
أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
"Dan Dia mengajarkan kepada
Adam nama-nama seluruhnya, kemudian Dia memperlihatkannya kepada para malaikat
seraya berfirman, 'Sebutkanlah kepada-Ku nama-nama itu jika kamu memang
benar.'"
(QS. Al-Baqarah: 31)
Para malaikat kemudian menjawab:
سُبْحَانَكَ
لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ
"Maha Suci Engkau, kami tidak
mempunyai ilmu selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya
Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana."
(QS. Al-Baqarah: 32)
Kemudian Allah memerintahkan Adam
untuk menyebutkan nama-nama tersebut, dan Adam mampu menjawabnya dengan benar
karena ilmu yang telah Allah ajarkan kepadanya.
Ilmu
sebagai Bekal Pertama Seorang Pemimpin
Para mufassir menjelaskan bahwa
pengajaran nama-nama kepada Nabi Adam bukan sekadar mengajarkan kosakata.
Menurut Imam Ibnu Katsir rahimahullah, Allah memperlihatkan keutamaan Adam
melalui ilmu yang dianugerahkan kepadanya. Dengan ilmu itulah Adam dipersiapkan
untuk memikul amanah sebagai khalifah di bumi.
Imam Ath-Thabari juga menjelaskan
bahwa kemuliaan Adam atas para malaikat dalam peristiwa tersebut tampak melalui
ilmu yang Allah karuniakan kepadanya.
Pelajaran ini sangat penting.
Sebelum Allah memberikan amanah kepemimpinan, Allah terlebih dahulu memberikan
ilmu. Dengan kata lain, ilmu mendahului amanah.
Prinsip inilah yang kemudian
ditegaskan oleh Rasulullah ﷺ dalam hadis tentang
imam salat. Beliau tidak mendahulukan orang yang paling kaya, paling
terpandang, atau paling berpengaruh, tetapi orang yang paling baik bacaan
Al-Qur'annya dan paling memahami agama.
Dengan demikian, hadis Nabi ﷺ merupakan penerapan praktis dari prinsip
Al-Qur'an yang telah dimulai sejak penciptaan Nabi Adam.
9.2 Kepemimpinan Nabi Ibrahim 'Alaihissalam:
Kepemimpinan Diperoleh Setelah Lulus Ujian
Apabila Nabi Adam mengajarkan bahwa
ilmu merupakan bekal pertama sebelum memimpin, maka kisah Nabi Ibrahim
'alaihissalam mengajarkan bahwa kepemimpinan merupakan amanah yang diberikan
setelah seseorang terbukti lulus dalam berbagai ujian keimanan dan ketaatan.
Allah Ta'ala berfirman:
وَإِذِ
ابْتَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّي
جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا ۖ قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۖ قَالَ لَا يَنَالُ
عَهْدِي الظَّالِمِينَ
"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim
diuji oleh Tuhannya dengan beberapa perintah, lalu ia melaksanakannya dengan
sempurna. Allah berfirman, 'Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi
manusia.' Ibrahim berkata, 'Dan bagaimana dengan keturunanku?' Allah berfirman,
'Janji-Ku ini tidak berlaku bagi orang-orang yang zalim.'"
(QS. Al-Baqarah: 124)
Ayat ini merupakan salah satu ayat
terpenting dalam Al-Qur'an tentang konsep imamah (kepemimpinan).
Kepemimpinan
Adalah Karunia Allah
Kalimat:
إِنِّي
جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا
"Sesungguhnya Aku akan
menjadikanmu imam bagi manusia."
menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan
sekadar hasil pilihan manusia, tetapi merupakan karunia dan amanah dari Allah.
Nabi Ibrahim tidak meminta kedudukan
tersebut. Beliau terlebih dahulu diuji dengan meninggalkan kaumnya demi
mempertahankan tauhid, menghadapi ancaman dibakar hidup-hidup, meninggalkan
Hajar dan Ismail di lembah Makkah atas perintah Allah, hingga bersedia
menyembelih putranya karena taat kepada Rabb-nya. Setelah seluruh ujian itu
dijalani dengan sempurna, Allah mengangkat beliau sebagai imam bagi seluruh
manusia.
Hal ini sejalan dengan sabda
Rasulullah ﷺ kepada Abdurrahman bin Samurah
radhiyallahu 'anhu agar tidak meminta jabatan. Kepemimpinan yang diberkahi adalah
amanah yang datang karena kelayakan, bukan karena ambisi.
Kepemimpinan
Tidak Berdasarkan Nasab Semata
Ketika Nabi Ibrahim memohon agar
keturunannya juga memperoleh kedudukan sebagai imam, Allah menjawab:
لَا
يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ
"Janji-Ku tidak berlaku bagi
orang-orang yang zalim."
Ayat ini menjadi dasar penting bahwa
kepemimpinan dalam Islam bukan hak turun-temurun. Hubungan darah tidak
menjamin seseorang layak menjadi pemimpin apabila ia tidak memenuhi
syarat-syarat yang ditetapkan Allah.
Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa
ayat ini menunjukkan kepemimpinan agama tidak boleh diberikan kepada orang yang
fasik atau zalim. Sedangkan Imam Ibnu Katsir menerangkan bahwa ayat ini menjadi
dalil bahwa kezaliman menggugurkan kelayakan seseorang untuk memegang amanah
yang agung.
Hubungannya
dengan Penetapan Imam Salat
Apabila ayat ini dipadukan dengan
hadis-hadis tentang imam salat, tampaklah keserasian yang sempurna.
Rasulullah ﷺ
tidak memerintahkan agar imam dipilih karena keturunan, kedudukan sosial, atau
kekayaan. Beliau menetapkan ukuran yang bersifat syar'i: ilmu, bacaan
Al-Qur'an, pemahaman terhadap Sunnah, serta keutamaan-keutamaan lainnya.
Dengan demikian, Al-Qur'an dan
As-Sunnah mengajarkan prinsip yang sama: kepemimpinan adalah amanah yang
diberikan kepada orang yang memenuhi syarat menurut syariat, bukan menurut
ukuran dunia semata.
Pelajaran
yang Dapat Diambil
- Kepemimpinan adalah amanah yang berasal dari Allah.
- Ilmu merupakan bekal pertama sebelum memimpin.
- Ujian keimanan dan ketakwaan merupakan proses
pembentukan seorang pemimpin.
- Nasab dan kedudukan sosial bukan ukuran utama dalam
kepemimpinan Islam.
- Orang yang zalim tidak layak memegang amanah
kepemimpinan.
- Hadis tentang penetapan imam salat merupakan penerapan
praktis dari prinsip-prinsip kepemimpinan yang telah diajarkan Allah
melalui Nabi Adam dan Nabi Ibrahim 'alaihimas salam.
9.3
Kepemimpinan Nabi Musa dan Nabi Harun 'Alaihimas Salam: Memilih Pembantu yang
Kuat dan Amanah
Di antara pelajaran penting tentang
kepemimpinan dalam Al-Qur'an adalah bahwa seorang pemimpin tidak mungkin
bekerja sendirian. Sebesar apa pun kemampuan seseorang, ia tetap memerlukan
orang-orang yang memiliki ilmu, amanah, dan kemampuan untuk membantunya.
Hal ini tampak jelas dalam kisah
Nabi Musa 'alaihissalam.
Ketika Allah memerintahkan beliau
menghadapi Fir'aun, Nabi Musa tidak meminta kekuasaan, tidak meminta kemewahan,
dan tidak pula meminta kedudukan. Yang beliau mohon kepada Allah adalah
kelapangan dada, kemudahan dalam menjalankan tugas, serta seorang pembantu yang
dapat menguatkan dakwahnya.
Allah Ta'ala berfirman:
قَالَ
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ
لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي وَاجْعَلْ لِي وَزِيرًا مِنْ أَهْلِي هَارُونَ
أَخِي اشْدُدْ بِهِ أَزْرِي وَأَشْرِكْهُ فِي أَمْرِي
"Musa berdoa, 'Ya Tuhanku,
lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku, lepaskanlah kekakuan dari lidahku
agar mereka memahami perkataanku. Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari
keluargaku, yaitu Harun saudaraku. Kuatkanlah dengannya punggungku dan
jadikanlah dia sekutu dalam urusanku.'"
(QS. Taha: 25–32)
Doa ini menunjukkan bahwa
kepemimpinan yang baik tidak dibangun atas sikap merasa paling mampu, tetapi
atas kesadaran akan perlunya bekerja sama dengan orang yang memiliki kompetensi.
Nabi Musa memilih Nabi Harun bukan
semata-mata karena hubungan persaudaraan, melainkan karena beliau memiliki
kemampuan berdakwah dan kefasihan berbicara. Al-Qur'an sendiri menjelaskan:
وَأَخِي
هَارُونُ هُوَ أَفْصَحُ مِنِّي لِسَانًا
"Saudaraku Harun lebih fasih
lisannya daripadaku."
(QS. Al-Qashash: 34)
Ayat ini menunjukkan bahwa dalam
memilih pembantu atau wakil, Islam mengajarkan agar mempertimbangkan kompetensi,
bukan sekadar kedekatan keluarga.
Hubungannya dengan pembahasan imam
salat sangat jelas. Rasulullah ﷺ juga menetapkan imam
berdasarkan kemampuan yang paling sesuai dengan tugasnya, bukan berdasarkan
hubungan kekerabatan atau kepentingan pribadi.
Pelajaran
Kepemimpinan dari Nabi Musa
Dari kisah Nabi Musa dapat dipetik
beberapa prinsip penting.
Pertama, seorang pemimpin harus
menyadari keterbatasan dirinya.
Kedua, pemimpin hendaknya memilih
pembantu yang dapat melengkapi kekurangannya.
Ketiga, kerja sama yang dibangun
atas dasar ilmu dan amanah akan menghasilkan kepemimpinan yang lebih kuat.
Prinsip-prinsip tersebut tetap
relevan dalam keluarga, lembaga pendidikan, organisasi, dunia usaha, maupun
pemerintahan.
9.4
Kepemimpinan Nabi Yusuf 'Alaihissalam: Kompetensi dan Integritas
Apabila Nabi Musa mengajarkan
pentingnya memilih pembantu yang tepat, maka Nabi Yusuf 'alaihissalam
mengajarkan bahwa dalam keadaan tertentu seseorang boleh menawarkan dirinya
memegang amanah apabila ia benar-benar memiliki kemampuan yang dibutuhkan demi
kemaslahatan umat.
Ketika Mesir menghadapi ancaman
paceklik besar, Nabi Yusuf berkata kepada raja:
قَالَ
اجْعَلْنِي عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ ۖ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ
"Jadikanlah aku pengelola
perbendaharaan negeri. Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi
berilmu."
(QS. Yusuf: 55)
Sekilas ayat ini tampak berbeda
dengan hadis Rasulullah ﷺ yang melarang meminta
jabatan.
Namun para ulama menjelaskan bahwa
tidak ada pertentangan antara keduanya.
Imam Ibnu Katsir menerangkan bahwa
Nabi Yusuf tidak meminta jabatan karena cinta kekuasaan, melainkan karena
beliau mengetahui bahwa dirinya memiliki kemampuan yang tidak dimiliki oleh
orang lain pada saat itu. Beliau juga mengetahui bahwa keselamatan masyarakat
bergantung pada pengelolaan yang benar terhadap perbendaharaan negara.
Demikian pula Imam Al-Qurthubi
menjelaskan bahwa ayat ini menjadi dalil bolehnya seseorang memperkenalkan
kemampuan dirinya apabila terdapat kebutuhan yang nyata dan bertujuan untuk
mewujudkan kemaslahatan umum, bukan demi kebanggaan pribadi.
Oleh karena itu, para ulama
membedakan antara ambisi terhadap jabatan dengan menawarkan kemampuan
ketika umat benar-benar memerlukannya.
Makna
"Ḥafīẓun 'Alīm"
Nabi Yusuf menyebutkan dua sifat
yang menjadi dasar kelayakannya.
حَفِيظٌ
Artinya, mampu menjaga amanah,
jujur, dan dapat dipercaya.
Sedangkan:
عَلِيمٌ
Artinya, memiliki ilmu, pengetahuan,
dan kemampuan teknis dalam mengelola urusan yang dipercayakan kepadanya.
Dua sifat ini merupakan perpaduan
yang sangat penting.
Ilmu tanpa amanah dapat melahirkan
penyalahgunaan kekuasaan.
Sebaliknya, amanah tanpa ilmu dapat
menimbulkan kesalahan dalam mengambil keputusan.
Islam menghendaki hadirnya kedua
sifat tersebut secara bersamaan.
Relevansinya
dengan Penetapan Imam Salat
Hadis tentang imam salat juga dibangun
di atas prinsip yang sama.
Rasulullah ﷺ
mendahulukan orang yang paling baik bacaan Al-Qur'annya, paling memahami
Sunnah, dan paling memenuhi syarat syar'i.
Artinya, sejak dalam ibadah yang
paling mendasar sekalipun, Islam telah mengajarkan bahwa amanah harus diberikan
kepada orang yang memiliki kompetensi.
Inilah yang pada masa kini sering
disebut sebagai prinsip merit, yaitu memberikan tanggung jawab
berdasarkan kemampuan dan kelayakan.
Namun perlu ditegaskan bahwa merit
dalam Islam tidak hanya diukur dari kecakapan intelektual atau profesional,
tetapi juga harus disertai iman, ketakwaan, akhlak yang baik, dan amanah.
Dengan demikian, konsep merit dalam
Islam lebih sempurna daripada sekadar meritokrasi dalam pengertian modern,
karena menggabungkan kompetensi dan integritas sebagai satu
kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Pelajaran
yang Dapat Diambil
- Pemimpin hendaknya memilih pembantu yang mampu
melengkapi kekurangannya.
- Kompetensi merupakan salah satu syarat utama dalam
menerima amanah.
- Amanah dan ilmu harus berjalan beriringan.
- Menawarkan diri untuk memikul amanah dibolehkan apabila
didorong oleh kebutuhan umat, bukan oleh ambisi pribadi.
- Penetapan imam salat merupakan contoh nyata bahwa Islam
mendahulukan kompetensi yang dibimbing oleh iman dan ketakwaan.
9.5 Kepemimpinan Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman 'Alaihimas Salam: Keadilan,
Hikmah, dan Ilmu dalam Memutuskan Perkara
Setelah Al-Qur'an menjelaskan pentingnya ilmu melalui Nabi Adam
'alaihissalam, ujian sebelum kepemimpinan melalui Nabi Ibrahim 'alaihissalam,
pentingnya memilih pembantu yang tepat melalui Nabi Musa dan Nabi Harun
'alaihimas salam, serta kompetensi dan amanah melalui Nabi Yusuf 'alaihissalam,
Al-Qur'an kemudian memberikan pelajaran yang sangat penting melalui
kepemimpinan Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman 'alaihimas salam, yaitu keadilan
dan hikmah dalam memutuskan perkara.
Seorang pemimpin bukan hanya dituntut memiliki ilmu dan kemampuan, tetapi
juga wajib menegakkan keadilan. Sebab, kekuasaan tanpa keadilan akan berubah
menjadi kezaliman, sedangkan ilmu tanpa hikmah dapat melahirkan keputusan yang
merugikan masyarakat.
Allah Memerintahkan Nabi Dawud Menegakkan Keadilan
Allah Ta'ala berfirman:
يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً
فِي الْأَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَىٰ
فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَنْ سَبِيلِ
اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ
"Wahai Dawud! Sesungguhnya Kami menjadikan engkau sebagai khalifah
di bumi. Maka berilah keputusan di antara manusia dengan benar (adil), dan
janganlah mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkanmu dari jalan Allah.
Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang
berat karena mereka melupakan hari perhitungan."
(QS. Shad: 26)
Ayat ini merupakan salah satu landasan utama tentang kepemimpinan dalam
Islam.
Allah tidak hanya mengangkat Nabi Dawud sebagai khalifah, tetapi sekaligus
menetapkan kewajiban yang harus beliau laksanakan, yaitu memutuskan
perkara dengan adil.
Perintah ini menunjukkan bahwa jabatan bukanlah tujuan, melainkan amanah.
Seorang pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap keputusan yang
diambilnya.
Bahaya Mengikuti Hawa Nafsu
Pada ayat yang sama, Allah memberikan peringatan:
وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَىٰ
"Janganlah engkau mengikuti hawa nafsu."
Ini menunjukkan bahwa musuh terbesar seorang pemimpin bukan hanya tekanan
dari luar, tetapi juga hawa nafsunya sendiri.
Ketika keputusan dipengaruhi oleh kepentingan pribadi, keluarga, kelompok,
kekayaan, atau kekuasaan, maka keadilan akan hilang.
Karena itu, Islam mengajarkan bahwa pemimpin harus menjadikan wahyu sebagai
pedoman, bukan hawa nafsu.
Hikmah Nabi Sulaiman dalam Memutuskan Perkara
Selain Nabi Dawud, Al-Qur'an juga memberikan contoh melalui Nabi Sulaiman
'alaihissalam.
Allah Ta'ala berfirman:
فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ ۚ وَكُلًّا
آتَيْنَا حُكْمًا وَعِلْمًا
"Lalu Kami memberikan pemahaman itu kepada Sulaiman. Kepada
masing-masing (Dawud dan Sulaiman) Kami telah memberikan hikmah dan ilmu."
(QS. Al-Anbiya': 79)
Ayat ini berkaitan dengan suatu perkara yang diputuskan oleh Nabi Dawud dan
kemudian Allah memberikan pemahaman yang lebih tepat kepada Nabi Sulaiman.
Para mufassir menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan dua pelajaran besar.
Pertama, seorang pemimpin harus terus mencari keputusan yang paling benar
berdasarkan ilmu.
Kedua, perbedaan ijtihad tidak mengurangi kemuliaan seorang pemimpin yang
ikhlas mencari kebenaran.
Allah memuji keduanya karena sama-sama diberikan ḥukm (kemampuan
memutuskan perkara) dan 'ilm (ilmu).
Hubungannya dengan Penetapan Imam Salat
Apabila hadis-hadis tentang imam salat diperhatikan, Rasulullah ﷺ tidak menjadikan kedudukan sosial sebagai
ukuran utama.
Beliau mendahulukan orang yang paling layak menurut syariat.
Prinsip ini sama dengan yang diajarkan kepada Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman.
Seorang pemimpin wajib memutuskan berdasarkan kebenaran,
bukan berdasarkan tekanan manusia.
Imam salat juga memimpin jamaah berdasarkan ketentuan syariat, bukan
berdasarkan siapa yang paling dihormati atau paling kaya.
Dengan demikian, penetapan imam salat sesungguhnya merupakan pendidikan
praktis agar kaum Muslimin terbiasa menerima kepemimpinan yang dibangun di atas
ilmu, keadilan, dan ketakwaan.
Pelajaran yang Dapat Diambil
1. Kepemimpinan adalah amanah dari Allah yang harus
dipertanggungjawabkan.
2. Keadilan merupakan kewajiban utama seorang pemimpin.
3. Hawa nafsu adalah musuh terbesar dalam kepemimpinan.
4. Hikmah dan ilmu harus menyertai setiap keputusan.
5. Penetapan imam salat mendidik umat agar menerima kepemimpinan
yang berdasarkan kebenaran, bukan kepentingan dunia.
9.6
Sintesis Kepemimpinan dalam Al-Qur'an: Pilar-Pilar Pemimpin Ideal Menurut Wahyu
Setelah memperhatikan kisah Nabi
Adam, Nabi Ibrahim, Nabi Musa dan Nabi Harun, Nabi Yusuf, Nabi Dawud, serta
Nabi Sulaiman 'alaihimus salam, tampak bahwa Al-Qur'an membangun konsep
kepemimpinan yang utuh dan saling melengkapi. Setiap kisah memberikan satu
pelajaran pokok, namun seluruhnya berpadu menjadi prinsip-prinsip kepemimpinan
yang bersumber dari wahyu.
Berbeda dengan pandangan manusia
yang sering menjadikan kekayaan, popularitas, keturunan, atau kekuasaan sebagai
ukuran utama, Al-Qur'an menetapkan bahwa kepemimpinan adalah amanah yang
memiliki syarat-syarat yang jelas.
Pertama:
Ilmu Didahulukan Sebelum Amanah
Pelajaran ini tampak pada kisah Nabi
Adam 'alaihissalam. Sebelum Allah menjadikan beliau sebagai khalifah di bumi,
Allah terlebih dahulu mengajarkan ilmu kepadanya.
وَعَلَّمَ
آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا
"Dan Dia mengajarkan kepada
Adam nama-nama seluruhnya."
(QS. Al-Baqarah: 31)
Ini menunjukkan bahwa kepemimpinan
harus dibangun di atas ilmu. Tanpa ilmu, amanah akan mudah disalahgunakan atau
dijalankan tanpa petunjuk.
Kedua:
Ujian Membentuk Kelayakan Memimpin
Nabi Ibrahim 'alaihissalam tidak diangkat
menjadi imam sebelum beliau berhasil melewati berbagai ujian keimanan.
Allah berfirman:
إِنِّي
جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا
"Sesungguhnya Aku akan
menjadikan engkau imam bagi manusia."
(QS. Al-Baqarah: 124)
Ayat ini mengajarkan bahwa
kepemimpinan bukan hadiah, melainkan amanah yang diberikan setelah seseorang
terbukti memiliki keteguhan iman, kesabaran, dan ketaatan.
Ketiga:
Memilih Orang yang Kuat dan Amanah
Dalam kisah Nabi Musa 'alaihissalam,
Al-Qur'an menampilkan satu kaidah besar ketika putri Nabi Syu'aib berkata:
يَا
أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ ۖ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ
"Wahai ayahku, ambillah dia
sebagai orang yang bekerja pada kita. Sesungguhnya sebaik-baik orang yang
engkau ambil bekerja ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya."
(QS. Al-Qashash: 26)
Dua sifat yang disebutkan dalam ayat
ini menjadi dasar penting dalam memilih seseorang untuk memegang amanah, yaitu kuat
(al-qawiyy) dan amanah (al-amīn).
Kekuatan mencakup kemampuan,
kecakapan, pengalaman, dan profesionalisme sesuai bidang tugasnya. Amanah
mencakup kejujuran, integritas, tanggung jawab, dan rasa takut kepada Allah.
Keempat:
Kompetensi dan Integritas
Nabi Yusuf 'alaihissalam berkata
kepada raja Mesir:
اجْعَلْنِي
عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ ۖ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ
"Jadikanlah aku pengelola
perbendaharaan negeri. Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi
berilmu."
(QS. Yusuf: 55)
Ungkapan حَفِيظٌ عَلِيمٌ (ḥafīẓun 'alīm) menggabungkan dua
unsur penting dalam kepemimpinan.
Ḥafīẓ menunjukkan kemampuan menjaga amanah, sedangkan 'Alīm
menunjukkan penguasaan ilmu dan kemampuan menjalankan tugas.
Kelima:
Menegakkan Keadilan
Allah berfirman kepada Nabi Dawud
'alaihissalam:
فَاحْكُمْ
بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَىٰ
"Maka berilah keputusan di
antara manusia dengan benar (adil), dan janganlah mengikuti hawa nafsu."
(QS. Shad: 26)
Keadilan merupakan tujuan utama
kepemimpinan. Tanpa keadilan, kekuasaan akan berubah menjadi alat penindasan.
Keenam:
Hikmah dalam Mengambil Keputusan
Tentang Nabi Sulaiman 'alaihissalam
Allah berfirman:
فَفَهَّمْنَاهَا
سُلَيْمَانَ ۚ وَكُلًّا آتَيْنَا حُكْمًا وَعِلْمًا
"Lalu Kami memberikan pemahaman
itu kepada Sulaiman. Kepada masing-masing Kami telah memberikan hikmah dan
ilmu."
(QS. Al-Anbiya': 79)
Ayat ini mengajarkan bahwa seorang
pemimpin harus memiliki hikmah, kecermatan, dan keluasan ilmu sehingga mampu
mengambil keputusan yang paling mendatangkan kemaslahatan.
Pilar-Pilar
Kepemimpinan Menurut Al-Qur'an
Dari seluruh kisah tersebut dapat
disimpulkan bahwa seorang pemimpin ideal menurut Al-Qur'an memiliki enam
karakter utama:
- Berilmu.
- Lulus dalam ujian iman dan amanah.
- Kuat dan profesional dalam menjalankan tugas.
- Amanah dan berintegritas.
- Menegakkan keadilan.
- Memiliki hikmah dalam mengambil keputusan.
Prinsip-prinsip inilah yang menjadi
fondasi kepemimpinan Islam sepanjang zaman.
9.7
Hubungan Seluruh Kisah Para Nabi dengan Hadis Penetapan Imam Salat
Apabila seluruh pembahasan dalam bab
ini direnungkan, akan tampak bahwa hadis Rasulullah ﷺ
tentang penetapan imam salat bukan sekadar mengatur tata cara salat berjamaah,
tetapi merupakan pendidikan kepemimpinan yang sangat mendalam.
Rasulullah ﷺ
bersabda:
يَؤُمُّ
الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ، فَإِنْ كَانُوا فِي الْقِرَاءَةِ
سَوَاءً، فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ، فَإِنْ كَانُوا فِي السُّنَّةِ سَوَاءً،
فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً، فَإِنْ كَانُوا فِي الْهِجْرَةِ سَوَاءً، فَأَقْدَمُهُمْ
سِلْمًا
"Yang menjadi imam suatu kaum
adalah yang paling baik bacaan Al-Qur'annya. Jika mereka sama dalam bacaan
Al-Qur'an, maka yang paling mengetahui As-Sunnah. Jika sama dalam pengetahuan
Sunnah, maka yang lebih dahulu berhijrah. Jika sama dalam hijrah, maka yang
lebih dahulu masuk Islam."
(HR. Muslim)
Hadis yang agung ini mengandung
kaidah yang sama dengan seluruh kisah para nabi yang telah dibahas.
Sebagaimana Nabi Adam didahulukan
karena ilmu yang Allah anugerahkan kepadanya, demikian pula Rasulullah ﷺ mendahulukan orang yang paling baik bacaan
Al-Qur'annya.
Sebagaimana Nabi Ibrahim diangkat
menjadi imam setelah lulus dalam ujian keimanan, demikian pula seorang pemimpin
harus memiliki ketakwaan dan kematangan pribadi.
Sebagaimana Nabi Musa memilih Harun
karena kemampuannya, demikian pula Islam mengajarkan agar setiap amanah
diberikan kepada orang yang memiliki kompetensi.
Sebagaimana Nabi Yusuf memadukan
amanah dan ilmu, demikian pula imam salat harus memiliki kelayakan dalam
memimpin jamaah.
Sebagaimana Nabi Dawud menegakkan
keadilan dan Nabi Sulaiman memutuskan perkara dengan hikmah, demikian pula
seorang imam menjadi teladan yang membimbing umat berdasarkan syariat Allah.
Dengan demikian, hadis tentang imam
salat merupakan penerapan praktis dari prinsip-prinsip kepemimpinan yang telah
diajarkan dalam Al-Qur'an.
Hikmah
Besar bagi Umat Islam
Dari seluruh pembahasan dapat
dipahami bahwa Islam mendidik umatnya sejak dari masjid untuk menghormati
kepemimpinan yang dibangun di atas ilmu, ketakwaan, amanah, keadilan, dan
kompetensi.
Apabila prinsip-prinsip ini
diterapkan dalam keluarga, lembaga pendidikan, organisasi, dunia usaha, maupun
pemerintahan, maka kepemimpinan akan menjadi sarana mewujudkan kemaslahatan.
Sebaliknya, apabila amanah diberikan
kepada orang yang tidak memiliki ilmu, tidak amanah, atau tidak memiliki
kemampuan, maka kerusakan akan mudah terjadi. Oleh sebab itu, Rasulullah ﷺ mengingatkan:
إِذَا
وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَىٰ غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ
"Apabila suatu urusan
diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya."
(HR. Al-Bukhari)
Hadis ini menjadi penutup yang
sangat tepat bagi pembahasan Bab IX. Seluruh kisah para nabi dan seluruh
petunjuk Rasulullah ﷺ mengajarkan satu
pesan yang sama, yaitu bahwa kepemimpinan adalah amanah besar yang wajib
diberikan kepada orang yang paling layak menurut syariat Allah, bukan menurut
hawa nafsu, kepentingan, atau ukuran dunia semata.
Kesimpulan Bab IX
Dari kisah Nabi Adam, Nabi Ibrahim, Nabi Musa dan Nabi Harun, Nabi Yusuf, Nabi Dawud, serta Nabi Sulaiman 'alaihimus salam, kita melihat bahwa kepemimpinan dalam Al-Qur'an bukan sekadar persoalan kedudukan, tetapi amanah yang memiliki kriteria dan tanggung jawab di hadapan Allah.
Nabi Adam mengajarkan bahwa ilmu merupakan bekal sebelum amanah. Nabi Ibrahim menunjukkan bahwa kepemimpinan berkaitan dengan ujian keimanan dan keteguhan dalam ketaatan. Kisah Nabi Musa dan Nabi Harun menunjukkan pentingnya memilih orang yang kuat dan mampu membantu menjalankan amanah.
Nabi Yusuf memperlihatkan perpaduan kompetensi dan integritas melalui sifat ḥafīẓun 'alīm. Sedangkan Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman mengajarkan bahwa seorang pemimpin harus memiliki keadilan, ilmu, dan hikmah dalam mengambil keputusan.
Semua prinsip tersebut memiliki hubungan yang sangat erat dengan penetapan imam salat.
Rasulullah ﷺ tidak menetapkan imam berdasarkan kekayaan, popularitas, kedudukan sosial, atau hubungan kekerabatan. Beliau memberikan ukuran yang jelas, dimulai dari bacaan Al-Qur'an, ilmu tentang As-Sunnah, kemudian keutamaan-keutamaan lainnya.
Dengan demikian, penetapan imam salat dapat dipandang sebagai pendidikan praktis bagi umat Islam agar terbiasa menghormati kepemimpinan yang dibangun di atas ilmu, kelayakan, amanah, ketakwaan, dan keadilan.
Inilah salah satu hikmah besar yang dapat kita renungkan: masjid mendidik umat untuk memahami bagaimana sebuah amanah kepemimpinan seharusnya diberikan.
Dan ketika prinsip tersebut dibawa ke dalam kehidupan yang lebih luas, kita akan semakin memahami mengapa Islam memberikan perhatian besar terhadap siapa yang menerima sebuah amanah dan siapa yang paling berhak menjalankannya.
📚 Dukung Dakwah Hmramly.com
Semoga artikel ini bermanfaat dan menjadi amal jariyah. Jika Anda berkenan mendukung dakwah kami, silakan berbelanja melalui tautan Shopee berikut. Tidak ada biaya tambahan bagi Anda, namun setiap transaksi membantu pengembangan konten Islami yang bermanfaat.
🛒 Belanja di Shopee melalui Link Ini
Jazakumullahu khairan katsiran atas dukungan Anda.
📖 Baca Juga
📖 Pendahuluan: Mengapa Penetapan Imam Salat Menjadi Pelajaran Besar tentang Kepemimpinan dalam Islam?
📖 Bab I: Mengapa Rasulullah ﷺ Mengatur Penetapan Imam Salat?
📖 Bab II: Dalil Utama tentang Orang yang Paling Berhak Menjadi Imam
📖 Bab III: Makna Aqra'uhum li Kitabillah Menurut Para Ulama
📖 Bab IV: Yang Paling Mengetahui As-Sunnah
📖 Bab V: Urutan Keutamaan Setelah Ilmu
📖 Bab VI: Hak Imam Tetap, Pemilik Rumah, dan Penguasa
📖 Bab VII: Ilmu Sebelum Kepemimpinan
📖 Bab VIII: Amanah Harus Diberikan kepada Ahlinya
Referensi
- Al-Qur'an al-Karim.
- Kementerian Agama Republik Indonesia. Al-Qur'an dan Terjemahannya (edisi terbaru).
- Shahih al-Bukhari.
- Shahih Muslim.
- Syarh Shahih Muslim.
- Fath al-Bari.
Walker Rollator Alat Bantu Jalan Lansia Manula ALKESPRO MALL
Tongkat Jalan Lansia Alat Bantu Tongkat Siku
Tongkat + Tempat Duduk OneMed Alat Bantu
Tongkat /Tongkat Jalan / Alat Bantu Jalan Kaki 1





Comments
Post a Comment