Skip to main content

Yang Paling Mengetahui As-Sunnah: Mengapa Rasulullah ﷺ Menjadikannya Kriteria Kedua Imam Salat?

 

Imam mengajarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah kepada jamaah sebagai ilustrasi pentingnya ilmu Sunnah dalam memilih imam salat.

Rasulullah ﷺ menetapkan bahwa apabila bacaan Al-Qur'an beberapa orang sama baiknya, maka yang lebih memahami As-Sunnah lebih berhak menjadi imam salat.


✅ Pengantar Bab IV

Setelah pada Bab III dijelaskan bahwa Rasulullah ﷺ mendahulukan orang yang paling baik bacaan Al-Qur'annya (aqra'uhum li Kitabillah), muncul pertanyaan berikutnya: bagaimana apabila terdapat beberapa orang yang sama-sama memiliki bacaan Al-Qur'an yang baik?

Hadis Rasulullah ﷺ memberikan jawaban yang sangat jelas. Dalam keadaan demikian, yang lebih berhak menjadi imam adalah orang yang paling mengetahui As-Sunnah. Urutan ini menunjukkan bahwa kepemimpinan dalam Islam tidak hanya dibangun di atas kemampuan membaca Al-Qur'an, tetapi juga di atas pemahaman terhadap tuntunan Rasulullah ﷺ sebagai penjelas wahyu Allah.


Bab IV

Yang Paling Mengetahui As-Sunnah

Setelah Rasulullah mendahulukan orang yang paling baik bacaan Al-Qur'annya, beliau melanjutkan sabdanya:

فَإِنْ كَانُوا فِي الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ

"Apabila mereka sama dalam bacaan Al-Qur'an, maka yang paling mengetahui As-Sunnah."

Kalimat ini menunjukkan bahwa Al-Qur'an saja tidak cukup dijadikan ukuran apabila dua orang atau lebih memiliki kemampuan yang sama dalam membaca Kitabullah. Dalam keadaan seperti itu, Rasulullah memerintahkan agar didahulukan orang yang lebih memahami Sunnah beliau.

Hal ini menunjukkan bahwa Al-Qur'an dan As-Sunnah merupakan dua sumber utama ajaran Islam yang tidak dapat dipisahkan.

Mengapa As-Sunnah Menjadi Ukuran Kedua?

Al-Qur'an memuat pokok-pokok ajaran Islam, sedangkan Rasulullah menjelaskan cara mengamalkannya melalui Sunnah.

Allah Ta'ala berfirman:

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ

"Dan Kami turunkan kepadamu Adz-Dzikr (Al-Qur'an), agar engkau menjelaskan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka."

(QS. An-Nahl: 44)

Ayat ini menunjukkan bahwa salah satu tugas Rasulullah adalah menjelaskan Al-Qur'an. Penjelasan tersebut diwujudkan melalui Sunnah, baik berupa ucapan, perbuatan, maupun persetujuan beliau.

Oleh sebab itu, seseorang yang memahami Sunnah akan lebih mengetahui bagaimana melaksanakan salat sesuai tuntunan Rasulullah .

🛍️ Rekomendasi Produk Pilihan

Dukung aktivitas ibadah Anda dengan produk pilihan berkualitas.


Mengapa Pengetahuan Sunnah Sangat Penting bagi Imam?

Seorang imam bukan sekadar membaca ayat-ayat Al-Qur'an. Ia memimpin seluruh rangkaian salat sesuai petunjuk Nabi .

Misalnya:

  • Bagaimana apabila lupa jumlah rakaat?
  • Kapan dilakukan sujud sahwi?
  • Bagaimana apabila makmum tertinggal satu rakaat?
  • Bagaimana apabila imam batal di tengah salat?
  • Apa yang dilakukan ketika terjadi kesalahan bacaan?

Semua persoalan tersebut tidak dijelaskan secara rinci dalam Al-Qur'an, tetapi diterangkan dalam Sunnah Rasulullah .

Karena itulah, apabila bacaan Al-Qur'an beberapa orang sama baiknya, maka yang lebih memahami Sunnah lebih berhak menjadi imam.

Penjelasan Para Ulama

Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa pengetahuan tentang Sunnah menjadi ukuran berikutnya karena imam membutuhkan pemahaman terhadap hukum-hukum salat. Kemampuan membaca Al-Qur'an saja tidak mencukupi apabila seseorang tidak mengetahui tata cara salat sebagaimana dicontohkan Rasulullah .

Demikian pula Ibnu Hajar al-'Asqalani menerangkan bahwa urutan dalam hadis ini menunjukkan kesempurnaan syariat. Setiap tingkatan memiliki alasan yang kuat dan saling melengkapi. Bacaan Al-Qur'an yang benar harus disertai pemahaman terhadap Sunnah agar ibadah terlaksana sesuai petunjuk Nabi .

Dengan demikian, seorang imam ideal bukan hanya fasih membaca Al-Qur'an, tetapi juga mengetahui hukum-hukum salat dan mampu membimbing jamaah apabila terjadi permasalahan.

Al-Qur'an dan As-Sunnah Tidak Dapat Dipisahkan

Hadis ini juga menjadi bantahan terhadap anggapan bahwa seseorang cukup berpegang kepada Al-Qur'an tanpa mempelajari Sunnah.

Rasulullah sendiri menjadikan pengetahuan tentang Sunnah sebagai salah satu ukuran utama dalam menentukan imam salat. Ini menunjukkan bahwa memahami Sunnah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari memahami agama.

Allah Ta'ala juga berfirman:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

"Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka ambillah, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah."

(QS. Al-Hasyr: 7)

Ayat ini menjadi landasan bahwa setiap Muslim wajib menerima petunjuk Rasulullah sebagaimana menerima petunjuk Al-Qur'an.

Hikmah yang Dapat Dipetik

Urutan yang diajarkan Rasulullah mengandung pelajaran yang sangat besar.

Beliau tidak hanya menginginkan imam yang pandai membaca Al-Qur'an, tetapi juga imam yang memahami bagaimana mengamalkan Al-Qur'an sesuai Sunnah.

Ilmu yang benar akan melahirkan ibadah yang benar. Sebaliknya, semangat yang tinggi tanpa ilmu dapat mengakibatkan kesalahan, meskipun dilakukan dengan niat yang baik.

Karena itu, Islam mendidik umatnya agar selalu mendahulukan ilmu sebelum memikul amanah. Seorang imam, seorang guru, seorang dai, bahkan seorang pemimpin masyarakat, hendaknya membekali dirinya dengan ilmu yang bersumber dari Al-Qur'an dan As-Sunnah sebelum memimpin orang lain.

Pelajaran yang Dapat Diambil

  1. Al-Qur'an dan As-Sunnah merupakan dua sumber utama ajaran Islam yang tidak dapat dipisahkan.
  2. Seorang imam harus memahami tata cara salat berdasarkan Sunnah Rasulullah .
  3. Ilmu tentang Sunnah menjadi pembeda ketika beberapa orang memiliki bacaan Al-Qur'an yang sama baiknya.
  4. Rasulullah kembali mengajarkan bahwa amanah diberikan berdasarkan ilmu dan kemampuan, bukan semata-mata usia, kedudukan, atau popularitas.
  5. Kepemimpinan yang benar harus dibangun di atas pemahaman terhadap wahyu Allah dan tuntunan Rasul-Nya.

 MUKENA SEDANG POPULER

Mukena Dewasa Katun Mikro Laser Cut 2in1 Zenia

Nyaman dipakai, bahan lembut, desain elegan dan praktis untuk ibadah sehari-hari.

Lihat Produk

Mukena Traveling Mini Pouch 2in1

Praktis dibawa bepergian, sudah termasuk tas dan sejadah mini.

Lihat Produk

Hampers Mukena Box

Cocok untuk hadiah pernikahan, ulang tahun, kelulusan dan berbagai acara spesial.

Lihat Produk

Mukena Katun Mikro Laser Cut Premium

Bahan adem, ringan, nyaman digunakan untuk aktivitas ibadah sehari-hari.

Lihat Produk

 

Kesimpulan Bab IV

Hadis Rasulullah ﷺ menunjukkan bahwa bacaan Al-Qur'an dan pemahaman terhadap As-Sunnah merupakan dua syarat yang saling melengkapi dalam kepemimpinan salat. Al-Qur'an adalah sumber petunjuk, sedangkan Sunnah menjelaskan cara mengamalkannya. Oleh karena itu, seorang imam tidak cukup hanya fasih membaca Al-Qur'an, tetapi juga harus memahami tuntunan Nabi ﷺ agar mampu memimpin salat sesuai syariat.

Prinsip ini memberikan pelajaran yang lebih luas bahwa setiap amanah hendaknya diberikan kepada orang yang memiliki ilmu yang benar, sehingga mampu membimbing dan menyelesaikan persoalan dengan petunjuk wahyu.


✅ Baca Juga

📖 Pendahuluan: Mengapa Penetapan Imam Salat Menjadi Pelajaran Besar tentang Kepemimpinan dalam Islam?

📖 Bab I: Mengapa Rasulullah ﷺ Mengatur Penetapan Imam Salat?

📖 Bab II: Dalil Utama tentang Orang yang Paling Berhak Menjadi Imam Salat

📖 Bab III: Makna Aqra'uhum li Kitabillah Menurut Para Ulama

📖 Bab V: Mengapa Hijrah Menjadi Ukuran Berikutnya dalam Penetapan Imam Salat?


Referensi

  • Al-Qur'an al-Karim.
  • Kementerian Agama Republik Indonesia. Al-Qur'an dan Terjemahannya (edisi terbaru).
  • Shahih al-Bukhari.
  • Shahih Muslim.
  • Imam an-Nawawi. Syarh Shahih Muslim.
  • Ibnu Hajar al-'Asqalani. Fath al-Bari

📚 Dukung Dakwah Hmramly.com

Semoga artikel ini bermanfaat dan menjadi amal jariyah. Jika Anda berkenan mendukung dakwah kami, silakan berbelanja melalui tautan Shopee berikut. Tidak ada biaya tambahan bagi Anda, namun setiap transaksi membantu pengembangan konten Islami yang bermanfaat.

🛒 Belanja di Shopee melalui Link Ini

Jazakumullahu khairan katsiran atas dukungan Anda.

Comments

Popular posts from this blog

Tidak ada yang abadi di dunia ini

Tidak ada yang abadi di dunia ini Berbekallah, tidak ada yang abadi di dunia ini. semua akan ada akhirnya. Urusan dunia itu hanya mainan belaka. Ibarat orang berkuda di padang pasir, menemukan naungan dibawah pohon, dia berhenti berteduh. Tidak selamanya dia disitu, dia berteduh hanya sebentar beristirahat dan akan melanjutkan perjalanannya , dan segera pergi.Demikian naungan itu, gambaran dunia "yang kita singgahi"  yang kita hidup didalamnya, hanya sebentar. "innaa ja'alnaa maa 'alaa al-ardhi ziinatan lahaa linabluwahum ayyuhum ahsanu 'amalaan" ( Q 18:7) "Sesungguhnya kami (Allah) menjadikan segala apa di bumi hanya sebagai hiasan , untuk mengetahui manakah diantara kalian yang baik amalannya.". Jadi manusia jangan salah faham, untuk apa dia terlahir jadi manusia. Diayat yang lain ( banyak ), Allah berfirman, "sabbaha lillaahi maa fii alssamaawaati wamaa fii al-ardhi wahuwa al'aziizu alhakiimu ( Q 61 :1 ) ...

Ketika Raga Mulai Melemah: Ikhtiar, Doa, dan Kesabaran yang Menenangkan Hati

Ketika Raga Mulai Melemah: Ikhtiar, Doa, dan Kesabaran yang Menenangkan Hati Seiring bertambahnya usia, banyak dari kita mulai merasakan perubahan pada raga. Tubuh yang dahulu terasa ringan, kini mudah lelah. Gerak tidak lagi seluwes dulu, dan waktu istirahat pun terasa berbeda. Pada saat seperti inilah hati sering diuji: antara menerima dengan lapang, atau mengeluh dalam diam. Minyak Urut Dayak Kalimantan Pada fase usia tertentu, melemahnya raga sering hadir bersama keluhan-keluhan kecil yang terasa nyata. Ada yang merasakan lutut nyeri ketika berdiri terlalu lama, kaki mudah kram di malam hari, atau badan terasa kaku saat bangun tidur. Keluhan seperti ini tidak selalu berat, namun cukup untuk menguji kesabaran dan ketenangan hati, terutama ketika datang berulang-ulang. Sebagian orang bertanya dalam batin, “Apakah ini pertanda Allah tidak lagi memberi kekuatan?” Padahal, Al-Qur’an justru menjelaskan bahwa keadaan seperti ini adalah bagian dari sunnatullah. Allah Ta‘ala berfirman: اللّ...

"Fa aina tadzhabun", Maka mau kemana engkau pergi?

"Fa aina tadzhabun", Maka mau kemana engkau pergi? Semakin tua dunia ini semakin hijau royo royo, menjadikan orang terus mempersungguh mencari dunia. Sementara akhlaq dan agama makin jauh ditinggalkan padahal, "Fa aina tadzhabun", Maka mau kemana engkau pergi? Kemajuan teknologi mengiringi gemerlapnya dunia. Mengiyakan semua kehendak manusia. Orang dibuat bangga dengan barang baru. Dulu orang bepergian naik onta atau naik kuda, sekarang orang bepergian pakai mobil dari mobil mewah, kapal pesiar mewah, jet mewah dan semua tersedia dengan dilengkapi kemudahan dan kenyaman.Gilanya zaman paham maunya manusia. Sampai manusia terjun bebas didalamnya. Begitu juga dengan tempat tinggal, tidak cukup satu, sekarang orang punya rumah rumah mewah, untuk tempat tinggal, untuk istirahat, untuk bersenang senang dari rumah biasa sampai rumah bak istana yang gemerlapan yang assesorisnya aduhai membuat orang berdecak. Sarana prasarana juga ter...