Skip to main content

Ilmu Sebelum Kepemimpinan: Pelajaran Islam tentang Amanah dan Kompetensi ( Bab - VII)

 

Ilmu sebelum kepemimpinan dalam Islam dengan Al-Qur'an dan pembelajaran agama.

Ilmu harus dipersiapkan sebelum seseorang memikul amanah kepemimpinan.


Pengantar BAB VII

Setelah membahas urutan orang yang paling berhak menjadi imam salat, mulai dari keutamaan bacaan Al-Qur'an, pengetahuan tentang As-Sunnah, hijrah, senioritas dalam Islam, hingga penghormatan terhadap hak imam tetap dan pemilik rumah, kita sampai pada sebuah prinsip yang sangat mendasar: ilmu harus mendahului kepemimpinan.

Kepemimpinan bukan sekadar kedudukan yang membuat seseorang dihormati. Ia adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Karena itu, seseorang yang akan memikul amanah harus mempersiapkan dirinya dengan ilmu, kemampuan, akhlak, dan rasa tanggung jawab.

Para sahabat Rasulullah ﷺ memahami pentingnya prinsip ini. Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu memberikan nasihat yang sangat terkenal:

تَفَقَّهُوا قَبْلَ أَنْ تُسَوَّدُوا

"Dalamilah ilmu agama sebelum kalian dijadikan pemimpin."

Nasihat tersebut menjadi pintu masuk pembahasan Bab VII: mengapa Islam mengajarkan agar seseorang belajar sebelum memimpin, mengapa jabatan tidak boleh menjadi ambisi pribadi, dan bagaimana seseorang menerima amanah apabila dirinya memang memiliki ilmu dan kemampuan untuk menjalankannya.

Dari sinilah semakin jelas bahwa hadis tentang penetapan imam salat bukan hanya berbicara tentang siapa yang berdiri di depan jamaah. Di baliknya terdapat pendidikan kepemimpinan yang sangat mendalam: amanah harus diberikan kepada orang yang memiliki kelayakan, dan kelayakan itu harus dibangun di atas ilmu, kemampuan, amanah, dan ketakwaan.


Bab VII

Ilmu Sebelum Kepemimpinan

تَفَقَّهُوا قَبْلَ أَنْ تُسَوَّدُوا

"Dalamilah ilmu agama sebelum kalian dijadikan pemimpin."

— Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu (diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari secara mu'allaq dalam Shahih-nya)

Setelah Rasulullah ﷺ menjelaskan kriteria orang yang paling berhak menjadi imam salat, mulai dari bacaan Al-Qur'an, pengetahuan tentang As-Sunnah, keutamaan hijrah, senioritas dalam Islam, hingga penghormatan terhadap hak imam tetap dan pemilik rumah, tampaklah sebuah prinsip besar yang menjadi ruh dari seluruh pembahasan tersebut, yaitu kepemimpinan harus didahului oleh ilmu.

Islam tidak menghendaki seseorang memikul amanah yang besar tanpa memiliki bekal ilmu yang memadai. Sebab, ilmu merupakan cahaya yang membimbing seseorang dalam mengambil keputusan, menegakkan keadilan, dan menjaga amanah yang dipikulkannya.

Oleh karena itu, para sahabat dan ulama salaf sangat menekankan pentingnya menuntut ilmu sebelum seseorang diberi kedudukan atau tanggung jawab di tengah masyarakat.

7.1 Menuntut Ilmu Sebelum Memikul Amanah Kepemimpinan

Di antara atsar yang sangat masyhur dari Amirul Mukminin Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu adalah perkataannya:

تَفَقَّهُوا قَبْلَ أَنْ تُسَوَّدُوا

"Dalamilah ilmu agama sebelum kalian dijadikan pemimpin."

Atsar ini dicantumkan oleh Imam al-Bukhari rahimahullah dalam Shahih al-Bukhari pada pembahasan ilmu.

Maknanya sangat dalam.

Umar radhiyallahu 'anhu mengingatkan agar generasi muda bersungguh-sungguh mempelajari agama sebelum mereka menjadi orang yang dituakan, dihormati, atau diserahi amanah memimpin masyarakat.

Mengapa demikian?

Karena ketika seseorang telah menjadi pemimpin, kesibukan mengurus manusia sering kali membuat kesempatan untuk belajar menjadi jauh lebih sedikit. Di sisi lain, masyarakat berharap keputusan-keputusan yang diambilnya lahir dari ilmu, bukan dari dugaan atau hawa nafsu.

Oleh sebab itu, para ulama menjelaskan bahwa atsar ini bukan hanya ditujukan kepada calon hakim atau pemimpin negara, tetapi juga kepada calon imam masjid, guru, dai, kepala keluarga, pengurus lembaga, dan siapa saja yang kelak akan memikul amanah di tengah masyarakat.

Inilah sebabnya para ulama salaf menghabiskan masa muda mereka untuk menuntut ilmu. Mereka memahami bahwa ilmu bukan sekadar perhiasan, melainkan bekal utama sebelum memikul tanggung jawab.

7.2 Perintah Berilmu Sebelum Beramal

Prinsip tersebut ditegaskan oleh Allah Ta'ala dalam firman-Nya:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ

"Maka ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, dan mohonlah ampunan atas dosamu serta dosa orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Allah mengetahui tempat usahamu dan tempat tinggalmu."

(QS. Muhammad: 19)

Ayat ini menunjukkan urutan yang sangat penting.

Allah terlebih dahulu memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ untuk mengetahui dan meyakini kebenaran tauhid, kemudian memerintahkan beliau beristighfar.

Dari susunan ayat ini, para ulama mengambil kaidah bahwa ilmu harus didahulukan sebelum ucapan dan perbuatan.

Imam al-Bukhari rahimahullah bahkan membuat sebuah bab dalam Shahih al-Bukhari dengan judul:

بَابُ الْعِلْمِ قَبْلَ الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ

"Bab: Ilmu sebelum ucapan dan perbuatan."

Beliau menjadikan ayat ini sebagai dalil utama.

Dengan demikian, seseorang tidak boleh berbicara atas nama agama, apalagi memimpin manusia, tanpa memiliki ilmu yang benar.

7.3 Larangan Meminta Jabatan

Islam sangat menghargai kepemimpinan sebagai amanah. Oleh sebab itu, Rasulullah ﷺ mengingatkan agar seorang Muslim tidak menjadikan jabatan sebagai ambisi pribadi.

Beliau bersabda kepada Abdurrahman bin Samurah radhiyallahu 'anhu:

يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ، لَا تَسْأَلِ الْإِمَارَةَ، فَإِنَّكَ إِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا، وَإِنْ أُعْطِيتَهَا مِنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا

"Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta jabatan. Jika engkau diberi jabatan karena memintanya, engkau akan diserahkan kepada dirimu sendiri. Namun jika engkau diberi jabatan tanpa memintanya, engkau akan diberi pertolongan."

(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dalam hadis lain, Rasulullah ﷺ bersabda kepada Abu Dzar radhiyallahu 'anhu:

يَا أَبَا ذَرٍّ، إِنَّكَ ضَعِيفٌ، وَإِنَّهَا أَمَانَةٌ، وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ، إِلَّا مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيهَا

"Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau lemah. Jabatan itu adalah amanah. Pada hari kiamat ia menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mengambilnya dengan haknya dan menunaikan kewajiban yang ada padanya."

(HR. Muslim)

Dua hadis ini menunjukkan bahwa kepemimpinan bukanlah kemuliaan yang layak diperebutkan, melainkan amanah besar yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

7.4 Menerima Amanah dengan Ilmu dan Tanggung Jawab

Larangan meminta jabatan bukan berarti seorang Muslim harus selalu menolak amanah yang diberikan kepadanya.

Apabila seseorang dipercaya memikul suatu amanah karena ilmu, kemampuan, dan integritasnya, serta masyarakat membutuhkannya, maka ia hendaknya mempertimbangkan amanah tersebut dengan penuh rasa tanggung jawab.

Al-Qur'an memberikan contoh melalui Nabi Yusuf 'alaihissalam yang berkata kepada Raja Mesir:

قَالَ اجْعَلْنِي عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ ۖ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ

"Jadikanlah aku pengelola perbendaharaan negeri. Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berilmu."

(QS. Yusuf: 55)

Para ulama menjelaskan bahwa permintaan Nabi Yusuf bukan didorong oleh ambisi pribadi, tetapi demi kemaslahatan masyarakat. Beliau mengetahui bahwa dirinya memiliki kemampuan yang dibutuhkan untuk menghadapi masa paceklik yang akan datang.

Ayat ini menunjukkan bahwa apabila seseorang memiliki kemampuan yang nyata dan kepentingan umat menuntutnya untuk memikul amanah, maka hal itu berbeda dengan ambisi mengejar jabatan demi kepentingan pribadi.

7.5 Ilmu sebagai Fondasi Kepemimpinan

Apabila seluruh dalil di atas diperhatikan, tampaklah satu benang merah yang sangat kuat.

Islam mendidik umatnya agar:

  • belajar sebelum memimpin;
  • memahami syariat sebelum memutuskan perkara;
  • tidak mengejar jabatan;
  • dan apabila amanah datang, menerimanya dengan ilmu, keikhlasan, serta rasa tanggung jawab.

Inilah prinsip yang telah diajarkan Rasulullah ﷺ sejak pembahasan tentang imam salat.

Beliau tidak mendahulukan orang yang paling kaya.

Beliau tidak mendahulukan orang yang paling berpengaruh.

Beliau juga tidak mendahulukan orang yang paling berambisi.

Yang beliau dahulukan adalah orang yang paling dekat dengan Al-Qur'an, paling memahami As-Sunnah, dan paling memiliki keutamaan menurut syariat.

Dengan demikian, hadis tentang penetapan imam salat sesungguhnya merupakan pelajaran besar bahwa kepemimpinan dalam Islam harus dibangun di atas ilmu, amanah, dan ketakwaan.

Pelajaran yang Dapat Diambil

  1. Menuntut ilmu merupakan persiapan utama sebelum memikul amanah kepemimpinan.
  2. Atsar Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu mengajarkan agar generasi muda memperdalam ilmu agama sebelum diberi kedudukan di tengah masyarakat.
  3. Al-Qur'an mendahulukan ilmu sebelum amal, sebagaimana dijelaskan dalam QS. Muhammad ayat 19.
  4. Rasulullah ﷺ melarang umatnya mengejar jabatan karena kepemimpinan adalah amanah yang sangat berat.
  5. Apabila amanah diberikan kepada orang yang memiliki ilmu dan kemampuan demi kemaslahatan umat, maka ia hendaknya menjalankannya dengan penuh tanggung jawab.
  6. Penetapan imam salat oleh Rasulullah ﷺ merupakan contoh nyata bahwa Islam mendahulukan kompetensi, ilmu, dan amanah dalam kepemimpinan.

 

Kesimpulan Bab VII

Bab VII menunjukkan bahwa ilmu merupakan fondasi penting sebelum seseorang memikul amanah kepemimpinan. Islam tidak mengajarkan umatnya mengejar jabatan demi kehormatan atau kepentingan pribadi. Sebaliknya, seorang Muslim hendaknya mempersiapkan dirinya dengan ilmu, amal, akhlak, kemampuan, dan tanggung jawab.

Nasihat Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu, petunjuk Al-Qur'an, serta hadis-hadis Rasulullah ﷺ memperlihatkan bahwa kepemimpinan adalah amanah yang berat. Karena itu, orang yang belum memiliki bekal yang memadai hendaknya terlebih dahulu memperdalam ilmu dan memperbaiki dirinya.

Namun, menerima amanah bukanlah sesuatu yang selalu tercela. Apabila seseorang memiliki kemampuan yang dibutuhkan dan amanah tersebut diberikan demi kemaslahatan umat, maka ia dapat menerimanya dengan penuh tanggung jawab, sebagaimana pelajaran yang dapat dipetik dari kisah Nabi Yusuf 'alaihissalam.

Dengan demikian, hadis tentang penetapan imam salat kembali menunjukkan prinsip yang sangat mendasar dalam Islam: kepemimpinan tidak diberikan kepada orang yang paling berambisi, tetapi kepada orang yang paling layak berdasarkan ilmu, kemampuan, amanah, dan ketakwaan.

Prinsip inilah yang akan membawa kita kepada pembahasan berikutnya dalam serial ini, yaitu bagaimana seluruh kriteria tersebut membentuk konsep kepemimpinan yang utuh dalam Islam.


Baca Juga

📖 Pendahuluan Serial:
Mengapa Penetapan Imam Salat Menjadi Pelajaran Besar tentang Kepemimpinan dalam Islam?

📖 Bab I:
Mengapa Rasulullah ﷺ Mengatur Penetapan Imam Salat?

📖 Bab II:
Dalil Utama tentang Orang yang Paling Berhak Menjadi Imam

📖 Bab III:
Makna “Aqra'uhum li Kitabillah” Menurut Para Ulama

📖 Bab IV:
Yang Paling Mengetahui As-Sunnah

📖 Bab V:
Urutan Keutamaan Setelah Ilmu

📖 Bab VI:
Hak Imam Tetap, Pemilik Rumah, dan Penguasanya


📚 Dukung Dakwah Hmramly.com

Semoga artikel ini bermanfaat dan menjadi amal jariyah. Jika Anda berkenan mendukung dakwah kami, silakan berbelanja melalui tautan Shopee berikut. Tidak ada biaya tambahan bagi Anda, namun setiap transaksi membantu pengembangan konten Islami yang bermanfaat.

🛒 Belanja di Shopee melalui Link Ini

Jazakumullahu khairan katsiran atas dukungan Anda.


Referensi


- Al-Qur'an al-Karim.

- Kementerian Agama Republik Indonesia. Al-Qur'an dan Terjemahannya (edisi terbaru).

- Shahih al-Bukhari.

- Shahih Muslim.

- Imam an-Nawawi. Syarh Shahih Muslim.

- Ibnu Hajar al-'Asqalani. Fath al-Bari.


 


Walker Rollator Alat Bantu Jalan Lansia Manula ALKESPRO MALL




Tongkat Jalan Lansia Alat Bantu Tongkat Siku




Tongkat + Tempat Duduk OneMed Alat Bantu




Tongkat /Tongkat Jalan / Alat Bantu Jalan Kaki 1 





Comments

Popular posts from this blog

Tidak ada yang abadi di dunia ini

Tidak ada yang abadi di dunia ini Berbekallah, tidak ada yang abadi di dunia ini. semua akan ada akhirnya. Urusan dunia itu hanya mainan belaka. Ibarat orang berkuda di padang pasir, menemukan naungan dibawah pohon, dia berhenti berteduh. Tidak selamanya dia disitu, dia berteduh hanya sebentar beristirahat dan akan melanjutkan perjalanannya , dan segera pergi.Demikian naungan itu, gambaran dunia "yang kita singgahi"  yang kita hidup didalamnya, hanya sebentar. "innaa ja'alnaa maa 'alaa al-ardhi ziinatan lahaa linabluwahum ayyuhum ahsanu 'amalaan" ( Q 18:7) "Sesungguhnya kami (Allah) menjadikan segala apa di bumi hanya sebagai hiasan , untuk mengetahui manakah diantara kalian yang baik amalannya.". Jadi manusia jangan salah faham, untuk apa dia terlahir jadi manusia. Diayat yang lain ( banyak ), Allah berfirman, "sabbaha lillaahi maa fii alssamaawaati wamaa fii al-ardhi wahuwa al'aziizu alhakiimu ( Q 61 :1 ) ...

"Fa aina tadzhabun", Maka mau kemana engkau pergi?

"Fa aina tadzhabun", Maka mau kemana engkau pergi? Semakin tua dunia ini semakin hijau royo royo, menjadikan orang terus mempersungguh mencari dunia. Sementara akhlaq dan agama makin jauh ditinggalkan padahal, "Fa aina tadzhabun", Maka mau kemana engkau pergi? Kemajuan teknologi mengiringi gemerlapnya dunia. Mengiyakan semua kehendak manusia. Orang dibuat bangga dengan barang baru. Dulu orang bepergian naik onta atau naik kuda, sekarang orang bepergian pakai mobil dari mobil mewah, kapal pesiar mewah, jet mewah dan semua tersedia dengan dilengkapi kemudahan dan kenyaman.Gilanya zaman paham maunya manusia. Sampai manusia terjun bebas didalamnya. Begitu juga dengan tempat tinggal, tidak cukup satu, sekarang orang punya rumah rumah mewah, untuk tempat tinggal, untuk istirahat, untuk bersenang senang dari rumah biasa sampai rumah bak istana yang gemerlapan yang assesorisnya aduhai membuat orang berdecak. Sarana prasarana juga ter...

Ketika Raga Mulai Melemah: Ikhtiar, Doa, dan Kesabaran yang Menenangkan Hati

Ketika Raga Mulai Melemah: Ikhtiar, Doa, dan Kesabaran yang Menenangkan Hati Seiring bertambahnya usia, banyak dari kita mulai merasakan perubahan pada raga. Tubuh yang dahulu terasa ringan, kini mudah lelah. Gerak tidak lagi seluwes dulu, dan waktu istirahat pun terasa berbeda. Pada saat seperti inilah hati sering diuji: antara menerima dengan lapang, atau mengeluh dalam diam. Minyak Urut Dayak Kalimantan Pada fase usia tertentu, melemahnya raga sering hadir bersama keluhan-keluhan kecil yang terasa nyata. Ada yang merasakan lutut nyeri ketika berdiri terlalu lama, kaki mudah kram di malam hari, atau badan terasa kaku saat bangun tidur. Keluhan seperti ini tidak selalu berat, namun cukup untuk menguji kesabaran dan ketenangan hati, terutama ketika datang berulang-ulang. Sebagian orang bertanya dalam batin, “Apakah ini pertanda Allah tidak lagi memberi kekuatan?” Padahal, Al-Qur’an justru menjelaskan bahwa keadaan seperti ini adalah bagian dari sunnatullah. Allah Ta‘ala berfirman: اللّ...