Urutan Keutamaan Setelah Ilmu: Mengapa Hijrah, Senioritas, dan Usia Menjadi Pertimbangan Imam Salat? ( Bab V )
Hijrah merupakan simbol keimanan, pengorbanan, dan kesetiaan kepada Allah serta Rasul-Nya. Karena itu, Rasulullah ﷺ menjadikannya salah satu ukuran keutamaan apabila ilmu para calon imam salat sama.
✅ Pengantar Bab V
Setelah Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa imam salat dipilih berdasarkan bacaan Al-Qur'an dan pemahaman terhadap As-Sunnah, beliau melanjutkan dengan urutan keutamaan berikutnya apabila kedua kriteria tersebut sama. Mengapa hijrah, senioritas dalam Islam, dan usia menjadi pertimbangan? Bab ini menjelaskan hikmah di balik urutan tersebut serta menunjukkan bahwa setiap ketentuan Rasulullah ﷺ mengandung pendidikan yang mendalam tentang penghargaan terhadap ilmu, pengorbanan, pengalaman, dan adab dalam kepemimpinan.
Bab V
Urutan
Keutamaan Setelah Ilmu
Pada hadis yang telah dibahas
sebelumnya, Rasulullah ﷺ bersabda:
فَإِنْ
كَانُوا فِي السُّنَّةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً، فَإِنْ كَانُوا فِي
الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ سِلْمًا
"Apabila mereka sama dalam pengetahuan
terhadap As-Sunnah, maka yang lebih dahulu berhijrah. Jika mereka sama dalam
hijrah, maka yang lebih dahulu masuk Islam."
Dalam sebagian riwayat disebutkan:
فَأَكْبَرُهُمْ
سِنًّا
"Maka yang lebih tua
usianya."
Urutan ini menunjukkan bahwa Rasulullah
ﷺ memberikan pedoman yang sangat rinci agar
tidak terjadi perselisihan dalam menentukan siapa yang paling berhak menjadi
imam salat.
Mengapa
Hijrah Didahulukan?
Bagi pembaca masa kini, mungkin
timbul pertanyaan: mengapa Rasulullah ﷺ
menyebut hijrah sebagai salah satu ukuran keutamaan?
Untuk memahaminya, kita harus
melihat konteks sejarah Islam pada masa itu.
Hijrah dari Mecca ke Medina bukan
sekadar perpindahan tempat tinggal. Hijrah adalah bukti keimanan, pengorbanan,
dan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Orang-orang yang berhijrah
meninggalkan kampung halaman, harta benda, bahkan keluarga demi mempertahankan
agama mereka.
Karena itu, Allah Ta'ala memberikan
kedudukan yang sangat tinggi kepada kaum Muhajirin.
Allah berfirman:
وَالسَّابِقُونَ
الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ
بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ...
"Orang-orang yang terdahulu
lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta
orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan
mereka pun ridha kepada-Nya..."
(QS. At-Taubah: 100)
Ayat ini menunjukkan bahwa hijrah
memiliki nilai yang sangat besar dalam sejarah Islam. Oleh sebab itu,
Rasulullah ﷺ menjadikannya sebagai salah satu ukuran
apabila dua orang memiliki bacaan Al-Qur'an dan pengetahuan Sunnah yang sama.
Yang
Lebih Dahulu Masuk Islam
Apabila para calon imam sama dalam
hijrah, Rasulullah ﷺ mendahulukan orang
yang lebih dahulu memeluk Islam.
Mengapa demikian?
Orang yang lebih dahulu masuk Islam
umumnya memiliki pengalaman lebih panjang dalam belajar langsung dari
Rasulullah ﷺ, menyaksikan turunnya wahyu, serta
menghadapi berbagai ujian pada masa awal dakwah.
Keutamaan ini juga diakui oleh
Al-Qur'an.
Allah Ta'ala berfirman:
لَا
يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ ۚ أُولَٰئِكَ
أَعْظَمُ دَرَجَةً...
"Tidak sama di antara kamu
orang yang berinfak dan berperang sebelum penaklukan (Makkah) dengan orang yang
melakukannya sesudah itu. Mereka lebih tinggi derajatnya..."
(QS. Al-Hadid: 10)
Ayat ini menunjukkan bahwa
orang-orang yang lebih dahulu beriman dan berjuang memiliki keutamaan yang
tidak dimiliki oleh generasi sesudahnya.
Mengapa
Usia Tetap Dimuliakan?
Dalam sebagian riwayat hadis, apabila
seluruh keutamaan sebelumnya sama, Rasulullah ﷺ
bersabda:
فَأَكْبَرُهُمْ
سِنًّا
"Maka yang lebih tua
usianya."
Ini menunjukkan bahwa Islam
memberikan penghormatan kepada orang yang lebih tua.
Usia sering kali berkaitan dengan
pengalaman hidup, kedewasaan, dan kebijaksanaan. Oleh sebab itu, apabila ilmu,
bacaan Al-Qur'an, dan keutamaan lainnya telah sama, maka orang yang lebih tua
didahulukan sebagai bentuk penghormatan.
Namun, hadis ini juga mengajarkan
keseimbangan.
Rasulullah ﷺ
tidak menjadikan usia sebagai ukuran pertama, melainkan setelah ilmu dan
keutamaan lainnya diperhatikan.
Dengan demikian, Islam memuliakan
orang yang lebih tua tanpa mengabaikan pentingnya ilmu dan kemampuan.
MUKENA SEDANG POPULER
Mukena Dewasa Katun Mikro Laser Cut 2in1 Zenia
Nyaman dipakai, bahan lembut, desain elegan dan praktis untuk ibadah sehari-hari.
Lihat ProdukMukena Traveling Mini Pouch 2in1
Praktis dibawa bepergian, sudah termasuk tas dan sejadah mini.
Lihat Produk
Hikmah
Urutan yang Ditetapkan Rasulullah ﷺ
Apabila diperhatikan secara menyeluruh,
hadis ini membentuk sebuah urutan yang sangat indah.
Pertama, Rasulullah ﷺ mendahulukan ilmu Al-Qur'an.
Kedua, beliau mendahulukan ilmu
As-Sunnah.
Ketiga, beliau memperhatikan
pengorbanan dalam agama melalui hijrah.
Keempat, beliau mempertimbangkan
senioritas dalam keislaman.
Kelima, beliau memuliakan usia.
Urutan ini mengajarkan bahwa Islam
tidak menafikan kehormatan usia ataupun pengalaman. Akan tetapi, ilmu tetap
menjadi fondasi utama. Penghormatan kepada orang yang lebih tua berjalan
seiring dengan penghargaan kepada ilmu dan kemampuan.
Di sinilah terlihat keseimbangan
syariat Islam. Tidak mengabaikan pengalaman, tetapi juga tidak mengorbankan
kompetensi.
Pelajaran
yang Dapat Diambil
- Setiap urutan dalam hadis Rasulullah ﷺ memiliki hikmah dan tidak ditetapkan secara kebetulan.
- Hijrah merupakan simbol pengorbanan dan loyalitas
kepada agama pada masa Rasulullah ﷺ.
- Orang yang lebih dahulu masuk Islam memiliki keutamaan
karena lebih lama belajar, beramal, dan berjuang bersama Rasulullah ﷺ.
- Islam memuliakan orang yang lebih tua, namun tetap
mendahulukan ilmu dan kemampuan apabila memilih seseorang untuk memimpin.
- Hadis ini mengajarkan keseimbangan antara kompetensi,
pengalaman, pengorbanan, dan penghormatan kepada senioritas.
✅ Kesimpulan Bab
Bab ini menunjukkan bahwa urutan yang ditetapkan Rasulullah ﷺ bukanlah urutan yang dibuat tanpa alasan. Setelah ilmu Al-Qur'an dan pemahaman As-Sunnah, Islam menghargai pengorbanan dalam agama, senioritas dalam keislaman, dan kedewasaan usia. Semua itu mengajarkan bahwa kepemimpinan dalam Islam dibangun di atas keseimbangan antara kompetensi, pengalaman, pengabdian, dan adab. Dengan demikian, hadis tentang imam salat menjadi pedoman yang tidak hanya berlaku di masjid, tetapi juga menjadi prinsip dalam memilih pemimpin di berbagai bidang kehidupan.
✅ Baca Juga
📖 Pendahuluan: Mengapa Penetapan Imam Salat Menjadi Pelajaran Besar tentang Kepemimpinan dalam Islam?
📖 Bab I: Mengapa Rasulullah ﷺ Mengatur Penetapan Imam Salat?
📖 Bab II: Dalil Utama tentang Orang yang Paling Berhak Menjadi Imam Salat
📖 Bab III: Makna Aqra'uhum li Kitabillah Menurut Para Ulama
📖 Bab IV: Yang Paling Mengetahui As-Sunnah
📖 Bab VI: Larangan Mengimami Pemilik Kekuasaan dan Adab Memuliakan Hak Orang Lain
✅ Referensi
- Al-Qur'an al-Karim.
- Kementerian Agama Republik Indonesia. Al-Qur'an dan Terjemahannya (edisi terbaru).
- Shahih al-Bukhari.
- Shahih Muslim.
- Imam an-Nawawi. Syarh Shahih Muslim.
-
Ibnu Hajar al-'Asqalani. Fath al-Bari.
📚 Dukung Dakwah Hmramly.com
Semoga artikel ini bermanfaat dan menjadi amal jariyah. Jika Anda berkenan mendukung dakwah kami, silakan berbelanja melalui tautan Shopee berikut. Tidak ada biaya tambahan bagi Anda, namun setiap transaksi membantu pengembangan konten Islami yang bermanfaat.
🛒 Belanja di Shopee melalui Link Ini
Jazakumullahu khairan katsiran atas dukungan Anda.



Comments
Post a Comment