Skip to main content

Yuyun, siapa lagi, haruskah...?

Yuyun, siapa lagi, haruskah...? Geger..., terkejut,....kecewa, ...kesel,   sedih, menderita......, geram..., entah apalagi, tergantung warga yang perduli. Semuanya pada sibuk dengan argumentasinya, " mengapa harus terjadi", "apa yang salah". Baik dari warga masyarakat awam sendiri sampai, para pakar, para cerdik cendekiawan, ataupun penegak hukum, dari pemerintah dan tuan tuan yang mewakili rakyat. Padahal sudah terjadi ratusan atau ribuan kali apalagi kalau dihitung sejak berdirinya negera ini. Apa mau tetap " anget-anget tai ayam?". "Hallo, seriuslah man!"
Negara ini telah diperjuangkan oleh pejuang bangsa dengan berdarah-darah untuk merdeka. Negarawan negeri ini sejak awal sudah sangat bijak menetapkan Pancasila sebagai dasar negara, masih kurang apa lagi. Dan menetapkan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertama. Apa arti dan maksudnya diletakkan pada sila pertama? Tentulah Negarawan itu kalau bisa bangun dari kuburnya, teriak-teriak "kamu badut badut" cuma memikirkan kantongmu saja. Akhlaq, tatakrama warga bangsamu ... "rusak", karena keyakinan berTuhannya dilepaskan begitu saja, seperti melepas hewan peliharaan yang tidak diurusi dengan baik. Ada yang gemuk, ada yang binal, ada yang buas. Namanya " Ketuhanan Yang Maha Esa", tentu dimaksudkan keyakinan masing masing warga.... "agama". Tapi apa nyatanya, yang rata-rata menuliskan di KTP nya agama tertentu tidak menetapi ibadahnya dengan benar. Semua memikirkan "perut" semata, tamak, serakah, pelit, bachil, dengki, dendam merasuk keseluruh sendi jiwa rakyat yang tak terurus agamanya ibadahnya. Bangga, warga anggota organisasi sudah banyak, tapi nyatanya .... kosong ibarat buih. Tatakrama tidak diurus, ibadah apalagi... besok saja kalau sudah tua, kalau dekat mau mati.  Anak-anak yang dilahirkan tumbuh begitu saja. Cukup bangga kesekolah diantar pakai mobil bagus, juara kelas. Wah orang tuanya luar biasa bangga dengan hidung mendongak keatas, "anak siapa dulu". Padahal anak nya tak pernah mengaji Buku Tuntunan agamanya sendiri, pun sembahyang. Begitu anaknya terjun ke masyarakat dibawa cerita agama oleh rekannya, menghindar, kalau gak langsung kabur. " Kuno, kampung, ndeso ", apalagi istilah kalau cerita diarahkan ke agama. Innalillah wainna ilahi rojiun. Begitu amat, fakta yang menyakitkan. Lihat saja diacara media TV apa saja wawancara, bila disarankan beragama dengan baik, pasti host nya mengalihkan pembicaraan seperti tak mendengar atau langsung distop, kenek an (kena diri sendiri). "Karepmu opo rek?"
Semua warga Indonesia harusnya tak ada yang tidak beragama. Bagaimana peran orang tua jaman kini. Seolah-olah negeri ini pernah ada kesenjangan generasi yang tidak peduli agama, yang kini jadi orang tua, yang tidak peduli ibadah sesuai agamanya. Tidak bisa ditoleransi didalam negara Pancasila. Ketuhanan Yang Maha Esa hal yang paling fundamental di negeri ini, artinya agama hal yang paling fundamental di negeri ini. Apa gunanya itu RT RW Lurah Desa dibentuk, kalau cuma mengurusi blok blok partai , organisasi dan sebagainya , tidak mengutamakan mengurus rakyat. " Tidak perduli" kepada warga. Seharusnya sudah tau warga yang bermasalah. Yang bermasalah urusan "negara". Harus ada wadah unsur orang tua dengan alim ulama masing masing , para pakar, pemuka negara dalam membina warga, bertemu , bekerja bermusyawarah. Itu sekolah , kalau nilai agamanya jelek jangan boleh pelajaran yang lain dilepas dengan angka yang menonjol. Apa kita mau dipimpin oleh orang yang tidak bermoral? Kita minta agar negara mau memperhatikan agama warga bangsa nya ditetapi dengan baik. Jangan hanya perlambang. Ketuhanan Yang Maha Esa jangan hanya perlambang. Negara harus membangun warga bangsa yang seimbang antara ketaatan beragama secara baik dengan kebutuhan "perut" rakyat. Didalam agama ada akhlak, ada adab, ada tatakrama yang punya reward and punishment, ....dunia... dan ...akhirat. Semoga jadi bahan pertimbangan.

Comments

Popular posts from this blog

Tidak ada yang abadi di dunia ini

Tidak ada yang abadi di dunia ini Berbekallah, tidak ada yang abadi di dunia ini. semua akan ada akhirnya. Urusan dunia itu hanya mainan belaka. Ibarat orang berkuda di padang pasir, menemukan naungan dibawah pohon, dia berhenti berteduh. Tidak selamanya dia disitu, dia berteduh hanya sebentar beristirahat dan akan melanjutkan perjalanannya , dan segera pergi.Demikian naungan itu, gambaran dunia "yang kita singgahi"  yang kita hidup didalamnya, hanya sebentar. "innaa ja'alnaa maa 'alaa al-ardhi ziinatan lahaa linabluwahum ayyuhum ahsanu 'amalaan" ( Q 18:7) "Sesungguhnya kami (Allah) menjadikan segala apa di bumi hanya sebagai hiasan , untuk mengetahui manakah diantara kalian yang baik amalannya.". Jadi manusia jangan salah faham, untuk apa dia terlahir jadi manusia. Diayat yang lain ( banyak ), Allah berfirman, "sabbaha lillaahi maa fii alssamaawaati wamaa fii al-ardhi wahuwa al'aziizu alhakiimu ( Q 61 :1 ) ...

Ketika Raga Mulai Melemah: Ikhtiar, Doa, dan Kesabaran yang Menenangkan Hati

Ketika Raga Mulai Melemah: Ikhtiar, Doa, dan Kesabaran yang Menenangkan Hati Seiring bertambahnya usia, banyak dari kita mulai merasakan perubahan pada raga. Tubuh yang dahulu terasa ringan, kini mudah lelah. Gerak tidak lagi seluwes dulu, dan waktu istirahat pun terasa berbeda. Pada saat seperti inilah hati sering diuji: antara menerima dengan lapang, atau mengeluh dalam diam. Minyak Urut Dayak Kalimantan Pada fase usia tertentu, melemahnya raga sering hadir bersama keluhan-keluhan kecil yang terasa nyata. Ada yang merasakan lutut nyeri ketika berdiri terlalu lama, kaki mudah kram di malam hari, atau badan terasa kaku saat bangun tidur. Keluhan seperti ini tidak selalu berat, namun cukup untuk menguji kesabaran dan ketenangan hati, terutama ketika datang berulang-ulang. Sebagian orang bertanya dalam batin, “Apakah ini pertanda Allah tidak lagi memberi kekuatan?” Padahal, Al-Qur’an justru menjelaskan bahwa keadaan seperti ini adalah bagian dari sunnatullah. Allah Ta‘ala berfirman: اللّ...

"Fa aina tadzhabun", Maka mau kemana engkau pergi?

"Fa aina tadzhabun", Maka mau kemana engkau pergi? Semakin tua dunia ini semakin hijau royo royo, menjadikan orang terus mempersungguh mencari dunia. Sementara akhlaq dan agama makin jauh ditinggalkan padahal, "Fa aina tadzhabun", Maka mau kemana engkau pergi? Kemajuan teknologi mengiringi gemerlapnya dunia. Mengiyakan semua kehendak manusia. Orang dibuat bangga dengan barang baru. Dulu orang bepergian naik onta atau naik kuda, sekarang orang bepergian pakai mobil dari mobil mewah, kapal pesiar mewah, jet mewah dan semua tersedia dengan dilengkapi kemudahan dan kenyaman.Gilanya zaman paham maunya manusia. Sampai manusia terjun bebas didalamnya. Begitu juga dengan tempat tinggal, tidak cukup satu, sekarang orang punya rumah rumah mewah, untuk tempat tinggal, untuk istirahat, untuk bersenang senang dari rumah biasa sampai rumah bak istana yang gemerlapan yang assesorisnya aduhai membuat orang berdecak. Sarana prasarana juga ter...