Skip to main content

Surat Al-Baqarah Ayat 217: Ketika Allah Menjelaskan Manakah Dosa yang Lebih Besar



Pengantar

Banyak orang hanya melihat suatu peristiwa dari luarnya saja, tetapi Allah melihat seluruh hakikatnya. Ada orang yang tampak melakukan kesalahan kecil, namun sebenarnya ia sedang membela kebenaran. Sebaliknya, ada orang yang mengkritik kesalahan orang lain, padahal dirinya melakukan kezaliman yang jauh lebih besar.

Inilah pelajaran yang sangat berharga dari Surat Al-Baqarah ayat 217. Ayat ini bukan sekadar menjelaskan hukum berperang pada bulan haram, tetapi mengajarkan kepada manusia agar menilai suatu perkara dengan adil menurut pandangan Allah, bukan sekadar menurut pandangan manusia.

Lebih dari itu, ayat ini juga mengingatkan bahwa sepanjang sejarah akan selalu ada orang-orang yang berusaha memalingkan manusia dari agama Allah. Dahulu mereka menggunakan siksaan, ancaman, dan peperangan. Pada zaman sekarang caranya bisa berbeda, tetapi tujuannya tetap sama, yaitu menjauhkan manusia dari Al-Qur'an dan Sunnah.


Firman Allah Ta'ala


يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ ۖ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ ۖ وَصَدٌّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَكُفْرٌ بِهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِخْرَاجُ أَهْلِهِ مِنْهُ أَكْبَرُ عِندَ اللَّهِ ۚ وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ ۗ وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّىٰ يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا ۚ وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۖ وَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Artinya:

"Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang berperang pada bulan haram. Katakanlah, 'Berperang pada bulan itu adalah dosa besar. Tetapi menghalangi manusia dari jalan Allah, kufur kepada-Nya, menghalangi manusia dari Masjidil Haram, dan mengusir penduduknya dari sana lebih besar dosanya di sisi Allah. Fitnah lebih besar daripada pembunuhan.' Mereka tidak akan berhenti memerangi kamu sampai mereka dapat mengembalikan kamu dari agamamu jika mereka sanggup. Barang siapa di antara kamu murtad dari agamanya lalu mati dalam keadaan kafir, maka gugurlah seluruh amalnya di dunia dan di akhirat. Mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya."


Bulan Haram yang Dimuliakan Allah

Allah telah menetapkan empat bulan haram sejak zaman Nabi Ibrahim 'alaihis salam. Pada bulan-bulan ini manusia diperintahkan menghormati kesuciannya.

Allah berfirman:
عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

"Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ada dua belas bulan... di antaranya ada empat bulan haram."

Empat bulan tersebut ialah:

  • Dzulqa'dah
  • Dzulhijjah
  • Muharram
  • Rajab

Pada masa itu, bangsa Arab pun menghormati bulan-bulan tersebut dan menghindari peperangan.


Mengapa Ayat Ini Turun?

Setelah Allah mengizinkan kaum Muslim membela diri dari kezaliman Quraisy, Rasulullah ﷺ mengirim sebuah pasukan kecil di bawah pimpinan Abdullah bin Jahsy radhiyallahu 'anhu untuk memantau pergerakan Quraisy.

Di tengah perjalanan terjadi insiden dengan kafilah Quraisy. Timbul keraguan apakah saat itu masih bulan Rajab atau sudah masuk bulan berikutnya. Orang-orang musyrik kemudian menyebarkan tuduhan bahwa Muhammad ﷺ dan para sahabat telah melanggar kesucian bulan haram.

Allah pun menurunkan ayat ini.

Allah tidak mengatakan bahwa peperangan pada bulan haram adalah perkara ringan.

Sebaliknya Allah menegaskan:
    قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ

"Katakanlah, berperang pada bulan itu adalah dosa besar."

Namun Allah juga membongkar kemunafikan orang-orang Quraisy.
Mereka mencela kaum Muslim karena dituduh berperang pada bulan haram, padahal mereka sendiri melakukan dosa yang jauh lebih besar.


Dosa yang Lebih Besar Menurut Allah

Allah menyebutkan beberapa dosa besar yang dilakukan kaum musyrik Quraisy.

Pertama, menghalangi manusia dari jalan Allah.

وَصَدٌّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ

Mereka menghalangi manusia masuk Islam.

Mereka menyiksa siapa saja yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Kedua, kufur kepada Allah.

وَكُفْرٌ بِهِ

Mereka menyembah berhala, padahal Ka'bah dibangun untuk mentauhidkan Allah.

Ketiga, menghalangi manusia dari Masjidil Haram.

وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ

Mereka melarang kaum Muslim mendatangi Baitullah.

Peristiwa ini tampak jelas ketika Rasulullah ﷺ bersama para sahabat hendak menunaikan umrah pada tahun keenam Hijriah, tetapi dihalangi sehingga terjadi Perjanjian Hudaibiyah.

Keempat, mengusir penduduknya.

وَإِخْرَاجُ أَهْلِهِ مِنْهُ

Mereka mengusir Rasulullah ﷺ dan kaum Muslim dari tanah kelahiran mereka sendiri sehingga Nabi ﷺ harus berhijrah ke Madinah.

Allah menyatakan semua kejahatan tersebut jauh lebih besar dosanya daripada tuduhan peperangan pada bulan haram.


Minyak Urut/ Gosok Pilihan




Fitnah Lebih Besar daripada Pembunuhan

Allah berfirman:

وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ

Yang dimaksud fitnah di sini adalah menindas manusia agar meninggalkan agama Allah, memaksa mereka kembali kepada kekafiran, serta menghalangi manusia dari jalan Allah.

Inilah sebabnya Allah kemudian mengizinkan kaum Muslim membela diri.

Allah berfirman:

أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا وَإِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ

"Diizinkan berperang bagi orang-orang yang diperangi karena mereka telah dizalimi."

Dan Allah berfirman pula:

وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ

"Mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan membela orang-orang yang tertindas, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak."

Maka tujuan jihad bukan untuk menumpahkan darah, tetapi menjaga agama Allah, membela orang-orang yang dizalimi, dan menghilangkan penindasan.


Mereka Akan Terus Berusaha Memalingkan Manusia dari Agama

Allah mengingatkan:

وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّىٰ يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا

Ini bukan hanya berlaku pada zaman Rasulullah ﷺ.

Sepanjang zaman akan selalu ada upaya yang ingin menjauhkan manusia dari agamanya. Dahulu dengan siksaan dan peperangan. Kini bisa melalui syahwat, kelalaian, hawa nafsu, pemikiran yang menyesatkan, serta kehidupan yang membuat manusia lupa kepada Allah.

Karena itu seorang Muslim harus menjaga iman hingga akhir hayat.


Bahaya Murtad

Allah menutup ayat ini dengan peringatan yang sangat keras.

وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ

Seluruh amal yang pernah dikerjakan menjadi gugur apabila seseorang murtad lalu meninggal dalam keadaan kafir.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

"Sesungguhnya amalan itu bergantung pada penutupnya."

Karena itulah Allah memerintahkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa dan janganlah sekali-kali kalian mati kecuali dalam keadaan Muslim."


Muhasabah untuk Umat Islam Zaman Sekarang

Hari ini kita hidup dalam suasana yang berbeda dengan masa Rasulullah ﷺ. Banyak negeri hidup dalam hubungan damai dan terikat oleh perjanjian. Dalam keadaan seperti ini, Islam mengajarkan agar kaum Muslim menunaikan perjanjian, berlaku adil, tidak melampaui batas, dan berdakwah dengan hikmah.

Allah berfirman:

وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

"Janganlah kalian melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas."

Dakwah pada zaman ini lebih banyak dilakukan dengan ilmu, akhlak yang mulia, kejujuran, kasih sayang, dan keteladanan. Tujuan syariat tetap sama, yaitu menjaga agama, menjaga jiwa, menjaga akal, menjaga harta, dan menjaga kehormatan, tetapi cara pelaksanaannya harus sesuai dengan tuntunan syariat dan keadaan yang berlaku.

Yang perlu kita khawatirkan sekarang bukan hanya serangan fisik, tetapi juga segala sesuatu yang melalaikan hati dari Allah. Banyak orang kehilangan semangat membaca Al-Qur'an, meninggalkan shalat, atau menganggap remeh agama karena lebih sibuk mengejar dunia.

Padahal seluruh nikmat yang kita rasakan bukanlah tanpa pertanggungjawaban.

Allah mengingatkan:

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

"Kemudian pada hari itu kalian benar-benar akan ditanya tentang semua nikmat."

Allah juga berfirman:

إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

"Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban."

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ: عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ بِهِ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلَاهُ

"Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari Kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya, ilmunya, hartanya, dan tubuhnya."

Setiap tarikan napas, setiap nikmat penglihatan, pendengaran, kesehatan, keluarga, rezeki, dan kesempatan adalah amanah dari Allah. Semua itu akan ditanya. Tidak ada satu pun yang luput dari hisab.

Karena itu, marilah kita bersyukur atas hidayah Islam. Jagalah iman dengan berpegang teguh kepada Al-Qur'an dan Sunnah. Jangan sampai kita termasuk orang yang tertipu oleh kenikmatan dunia yang sementara, lalu menyesal ketika penyesalan tidak lagi berguna.

Semoga Allah menetapkan hati kita di atas agama-Nya hingga akhir hayat, mengampuni dosa-dosa kita, dan mewafatkan kita dalam keadaan Muslim, sebagaimana doa yang diajarkan oleh Al-Qur'an:

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

"Amin, ya Rabbal 'alamin."


Comments

Popular posts from this blog

Tidak ada yang abadi di dunia ini

Tidak ada yang abadi di dunia ini Berbekallah, tidak ada yang abadi di dunia ini. semua akan ada akhirnya. Urusan dunia itu hanya mainan belaka. Ibarat orang berkuda di padang pasir, menemukan naungan dibawah pohon, dia berhenti berteduh. Tidak selamanya dia disitu, dia berteduh hanya sebentar beristirahat dan akan melanjutkan perjalanannya , dan segera pergi.Demikian naungan itu, gambaran dunia "yang kita singgahi"  yang kita hidup didalamnya, hanya sebentar. "innaa ja'alnaa maa 'alaa al-ardhi ziinatan lahaa linabluwahum ayyuhum ahsanu 'amalaan" ( Q 18:7) "Sesungguhnya kami (Allah) menjadikan segala apa di bumi hanya sebagai hiasan , untuk mengetahui manakah diantara kalian yang baik amalannya.". Jadi manusia jangan salah faham, untuk apa dia terlahir jadi manusia. Diayat yang lain ( banyak ), Allah berfirman, "sabbaha lillaahi maa fii alssamaawaati wamaa fii al-ardhi wahuwa al'aziizu alhakiimu ( Q 61 :1 ) ...

Ketika Raga Mulai Melemah: Ikhtiar, Doa, dan Kesabaran yang Menenangkan Hati

Ketika Raga Mulai Melemah: Ikhtiar, Doa, dan Kesabaran yang Menenangkan Hati Seiring bertambahnya usia, banyak dari kita mulai merasakan perubahan pada raga. Tubuh yang dahulu terasa ringan, kini mudah lelah. Gerak tidak lagi seluwes dulu, dan waktu istirahat pun terasa berbeda. Pada saat seperti inilah hati sering diuji: antara menerima dengan lapang, atau mengeluh dalam diam. Minyak Urut Dayak Kalimantan Pada fase usia tertentu, melemahnya raga sering hadir bersama keluhan-keluhan kecil yang terasa nyata. Ada yang merasakan lutut nyeri ketika berdiri terlalu lama, kaki mudah kram di malam hari, atau badan terasa kaku saat bangun tidur. Keluhan seperti ini tidak selalu berat, namun cukup untuk menguji kesabaran dan ketenangan hati, terutama ketika datang berulang-ulang. Sebagian orang bertanya dalam batin, “Apakah ini pertanda Allah tidak lagi memberi kekuatan?” Padahal, Al-Qur’an justru menjelaskan bahwa keadaan seperti ini adalah bagian dari sunnatullah. Allah Ta‘ala berfirman: اللّ...

"Fa aina tadzhabun", Maka mau kemana engkau pergi?

"Fa aina tadzhabun", Maka mau kemana engkau pergi? Semakin tua dunia ini semakin hijau royo royo, menjadikan orang terus mempersungguh mencari dunia. Sementara akhlaq dan agama makin jauh ditinggalkan padahal, "Fa aina tadzhabun", Maka mau kemana engkau pergi? Kemajuan teknologi mengiringi gemerlapnya dunia. Mengiyakan semua kehendak manusia. Orang dibuat bangga dengan barang baru. Dulu orang bepergian naik onta atau naik kuda, sekarang orang bepergian pakai mobil dari mobil mewah, kapal pesiar mewah, jet mewah dan semua tersedia dengan dilengkapi kemudahan dan kenyaman.Gilanya zaman paham maunya manusia. Sampai manusia terjun bebas didalamnya. Begitu juga dengan tempat tinggal, tidak cukup satu, sekarang orang punya rumah rumah mewah, untuk tempat tinggal, untuk istirahat, untuk bersenang senang dari rumah biasa sampai rumah bak istana yang gemerlapan yang assesorisnya aduhai membuat orang berdecak. Sarana prasarana juga ter...