Skip to main content

Mengapa Rasulullah ﷺ Mengajarkan Doa Ini? Tadabbur Makna Kalimat Pertama Doa Tahajud dalam Hadis Tirmidzi

 

Seorang muslim berdoa pada malam hari memohon rahmat dan petunjuk Allah.

Ketika hidup terasa berat, kembalilah kepada Allah dengan doa, ikhtiar, dan harapan akan rahmat-Nya.


Pendahuluan

Setiap manusia pasti pernah mengalami masa-masa yang sulit. Ada saat ketika hati terasa gelisah tanpa sebab yang jelas. Ada yang diuji dengan kesehatan, keluarga, pekerjaan, rezeki, atau persoalan hidup yang datang silih berganti. Sebagian orang mampu menceritakan masalahnya kepada orang lain, tetapi tidak sedikit yang menyimpan semuanya di dalam hati.

Dalam keadaan seperti itu, sering kali seseorang tidak tahu harus berbuat apa. Pikiran menjadi kusut, keputusan terasa berat, dan jalan keluar seakan tertutup.

Islam tidak membiarkan seorang mukmin menghadapi semua itu sendirian.

Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berdoa dan memohon pertolongan kepada-Nya.

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

"Dan Tuhanmu berfirman, 'Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan memperkenankan bagimu.'"

(QS. Ghafir: 60)

Ayat ini merupakan undangan dari Allah kepada setiap hamba yang sedang memikul beban hidup. Ketika manusia tidak mengetahui jalan keluar, ia tetap dapat mengangkat kedua tangannya dan memohon petunjuk kepada Allah.

Bahkan, Rasulullah ﷺ mengabarkan tentang keutamaan berdoa pada sepertiga malam terakhir. Dalam hadis sahih, beliau menyampaikan bahwa Allah menyeru hamba-hamba-Nya untuk berdoa, meminta, dan memohon ampun.

Dalam riwayat Sahih al-Bukhari nomor 1145, disebutkan bahwa pada sepertiga malam terakhir, Allah berfirman:

"Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan doanya. Siapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku akan memberinya. Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuninya."

Hadis ini menunjukkan keutamaan waktu tersebut. Seorang mukmin dapat memanfaatkannya untuk bermunajat, mengadukan kesulitan, memohon ampun, dan meminta kebaikan kepada Allah.

Di antara doa yang diriwayatkan dibaca Rasulullah ﷺ dalam konteks salat malam adalah doa panjang yang tercantum dalam Jami' at-Tirmidzi. Doa ini menarik untuk direnungkan karena permohonannya tidak langsung tertuju pada harta, kesehatan, atau kemenangan. Doa ini justru dimulai dengan memohon rahmat Allah, petunjuk bagi hati, dan kebaikan dalam seluruh urusan.

Beliau berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِكَ تَهْدِي بِهَا قَلْبِي، وَتَجْمَعُ بِهَا أَمْرِي، وَتَلُمُّ بِهَا شَعَثِي، وَتُصْلِحُ بِهَا غَائِبِي...

Makna bagian awal doa tersebut adalah:

"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu rahmat dari sisi-Mu, yang dengannya Engkau memberi petunjuk kepada hatiku, menata urusanku, memperbaiki keadaanku yang tercerai-berai, dan memperbaiki urusanku yang belum tampak..."

Terjemahan ini merupakan upaya menyampaikan makna bagian awal doa secara ringkas. Khususnya pada ungkapan tentang urusan yang belum tampak, maknanya perlu dipahami secara hati-hati karena penafsirannya tidak cukup ditentukan oleh satu kemungkinan saja.

Catatan sumber hadis: Doa panjang ini diriwayatkan dalam Jami' at-Tirmidzi nomor 3419. Imam at-Tirmidzi menyebut riwayat tersebut gharib, dan dalam penilaian Darussalam yang dicantumkan oleh sejumlah sumber hadis, riwayat ini dinilai da'if (lemah). Karena itu, kita tidak menyebut seluruh riwayat doa ini sebagai hadis sahih. Adapun keutamaan berdoa pada sepertiga malam terakhir memiliki landasan hadis sahih tersendiri, antara lain Sahih al-Bukhari nomor 1145.

Meskipun demikian, makna permohonan kepada Allah dalam doa ini dapat menjadi bahan renungan, selama kita membedakan antara penjelasan makna dan kepastian derajat riwayatnya.

Mengapa Rasulullah Memulai dengan Memohon Rahmat?

Doa ini diawali dengan kalimat:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِكَ

"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu rahmat dari sisi-Mu."

Mengapa yang diminta pertama kali adalah rahmat?

Rahmat Allah merupakan sumber kebaikan yang sangat luas. Dengan rahmat-Nya, seorang hamba memperoleh petunjuk, ampunan, pertolongan, dan kesempatan untuk memperbaiki diri. Ia juga berharap mendapatkan ketenangan hati, keberkahan hidup, serta keselamatan di dunia dan akhirat.

Tanpa pertolongan dan rahmat Allah, kecerdasan tidak selalu membawa kebahagiaan, harta tidak selalu mendatangkan ketenangan, dan jabatan tidak selalu menghadirkan kemuliaan.

Manusia boleh berusaha sekuat tenaga, tetapi ia tetap membutuhkan pertolongan Allah. Ada persoalan yang dapat diselesaikan melalui ikhtiar dan perencanaan. Ada pula keadaan yang membuat manusia menyadari keterbatasan dirinya dan semakin membutuhkan bimbingan-Nya.

Karena itu, memohon rahmat Allah merupakan permulaan yang sangat bermakna. Kita tidak hanya meminta agar suatu masalah segera berakhir, tetapi juga memohon agar Allah membimbing kita dalam menghadapi dan menyelesaikannya.

Allah berfirman:

وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ

"Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu."

(QS. Al-A'raf: 156)

Ayat ini mengingatkan kita akan luasnya rahmat Allah. Jangan sampai kesulitan hidup membuat seseorang berputus asa dari rahmat-Nya.

Seorang hamba boleh merasa lelah, sedih, dan bingung. Namun, ia tetap mempunyai tempat untuk kembali: Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

"Tahdi Biha Qalbi" — Ya Allah, Berilah Petunjuk kepada Hatiku

Kalimat berikutnya adalah:

تَهْدِي بِهَا قَلْبِي

"Dengan rahmat itu, berilah petunjuk kepada hatiku."

Mengapa hati yang disebut lebih dahulu?

Hati memiliki peran penting dalam iman, niat, dan arah kehidupan seseorang. Apabila hati diarahkan kepada kebaikan, seseorang akan lebih mudah berusaha menjaga perkataan, perbuatan, dan pilihannya.

Sebaliknya, apabila hati dikuasai kesombongan, dengki, riya', atau kecintaan terhadap dunia secara berlebihan, seseorang dapat terdorong melakukan hal-hal yang merugikan dirinya dan orang lain.

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

"Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika ia baik, seluruh tubuh menjadi baik. Jika ia rusak, seluruh tubuh menjadi rusak. Ketahuilah, itulah hati."

(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menegaskan pentingnya menjaga hati. Oleh karena itu, memohon petunjuk bagi hati merupakan permohonan yang sangat mendasar.

Sering kali kita sibuk memohon agar keadaan di luar diri berubah. Kita meminta agar persoalan keluarga selesai, rezeki dilapangkan, kesehatan membaik, atau kesulitan segera berlalu. Semua itu boleh dimohonkan kepada Allah.

Namun, kita juga perlu memohon agar hati diberi petunjuk supaya mampu mengambil keputusan yang benar, bersabar ketika menghadapi ujian, bersyukur ketika menerima nikmat, dan tetap taat ketika keinginan kita belum terpenuhi.

Petunjuk hati bukan berarti semua masalah akan langsung hilang. Terkadang, pertolongan Allah hadir melalui keteguhan untuk menjalani keadaan yang sulit, kejernihan dalam menentukan langkah, atau keberanian untuk mengakui kesalahan dan memperbaikinya.

Inilah pelajaran penting yang dapat kita renungkan: sebelum memohon perubahan keadaan di luar diri, jangan lupa memohon agar Allah membimbing hati kita.

"Wa Tajma'u Biha Amri" — Ya Allah, Tata Seluruh Urusanku

Kalimat berikutnya berbunyi:

وَتَجْمَعُ بِهَا أَمْرِي

Secara harfiah, ungkapan ini mengandung makna mempersatukan atau menghimpun urusan. Dalam konteks doa, maknanya dapat direnungkan sebagai permohonan agar Allah membantu menata dan memperbaiki berbagai urusan kehidupan.

Betapa banyak orang yang hidupnya terasa tidak teratur.

Ada yang ibadahnya baik, tetapi rumah tangganya sedang menghadapi masalah.

Ada yang memiliki rezeki cukup, tetapi kehilangan ketenangan.

Ada yang sehat jasmaninya, tetapi pikirannya dipenuhi kegelisahan.

Ada pula yang memiliki banyak rencana, tetapi kesulitan menentukan langkah yang tepat.

Persoalan-persoalan tersebut sering kali saling berkaitan. Masalah keluarga dapat memengaruhi pikiran. Pikiran yang kacau dapat mengganggu pekerjaan. Kesulitan ekonomi dapat menimbulkan kecemasan. Ketika berbagai urusan datang bersamaan, seseorang dapat merasa seolah-olah hidupnya tercerai-berai.

Dalam keadaan seperti itu, kita dapat memohon kepada Allah agar diberi kemampuan untuk menata urusan satu demi satu, membedakan yang penting dari yang kurang penting, dan menemukan langkah yang sesuai dengan petunjuk-Nya.

Doa bukan alasan untuk meninggalkan ikhtiar. Setelah berdoa, kita tetap berusaha memperbaiki keadaan, meminta nasihat kepada orang yang tepat, memenuhi kewajiban, dan mengambil keputusan dengan pertimbangan yang baik.

Kita dapat menghadirkan permohonan ini dalam hati:

"Ya Allah, jika urusanku sedang terasa kacau, bantulah aku menatanya. Jika langkahku kehilangan arah, berilah aku petunjuk. Jika berbagai persoalan datang bersamaan, kuatkanlah aku untuk menghadapinya satu demi satu dengan cara yang Engkau ridhai."

Permohonan ini mengajarkan kita untuk tidak hanya meminta agar satu masalah selesai, tetapi juga meminta bimbingan Allah dalam menjalani seluruh urusan kehidupan.

Kita tidak mengetahui semua akibat dari setiap pilihan. Karena itu, kita memohon petunjuk-Nya, kemudian berikhtiar sesuai kemampuan dan menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Pelajaran dari Tiga Kalimat Pertama Doa

Dari tiga kalimat pertama doa ini, ada tiga hal yang patut kita renungkan.

Pertama, memohon rahmat Allah. Kita menyadari bahwa kemampuan manusia terbatas dan selalu membutuhkan pertolongan-Nya.

Kedua, memohon petunjuk hati. Kita tidak hanya menginginkan perubahan keadaan, tetapi juga ingin memiliki hati yang mampu memilih jalan yang benar.

Ketiga, memohon kebaikan dalam seluruh urusan. Kita meminta pertolongan Allah sambil tetap berusaha menata kehidupan, memperbaiki kesalahan, dan menyelesaikan persoalan secara bertahap.

Ketiganya saling melengkapi. Rahmat Allah menjadi sesuatu yang kita harapkan, petunjuk hati menjadi kebutuhan mendasar, dan kebaikan dalam urusan kehidupan menjadi bagian dari permohonan kita.

Ketika hidup terasa berat, seorang mukmin tidak harus berpura-pura bahwa dirinya selalu kuat. Ia boleh mengakui kelemahannya dan memohon pertolongan Allah. Yang penting, ia tidak menjadikan kesulitan sebagai alasan untuk berputus asa atau berhenti berusaha.

Penutup

Ketika malam semakin sunyi dan kebanyakan manusia terlelap, seorang hamba dapat bangun untuk salat, berzikir, membaca Al-Qur'an, dan berdoa kepada Allah.

Ia tidak harus menunggu sampai semua masalah selesai untuk datang kepada-Nya. Justru ketika kebingungan, kesedihan, atau kegelisahan terasa berat, ia dapat memulai dengan memohon rahmat dan petunjuk-Nya.

Doa yang kita renungkan dalam artikel ini mengingatkan kita bahwa kebutuhan seorang hamba bukan hanya berupa materi atau perubahan keadaan. Kita juga membutuhkan hati yang mendapat petunjuk dan kemampuan untuk menjalani berbagai urusan dengan benar.

Berdoalah dengan penuh harap, lakukan ikhtiar yang mampu kita kerjakan, dan mintalah kepada Allah agar langkah kita senantiasa berada di jalan yang diridhai-Nya.

Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya, membimbing hati kita, dan menolong kita memperbaiki urusan kehidupan di dunia maupun di akhirat.

Bersambung ke Bagian II: Tadabbur Makna "Wa Talummu Biha Sya'tsi" dan "Wa Tushlihu Biha Gha'ibi".



 MUKENA SEDANG POPULER

Mukena Dewasa Katun Mikro Laser Cut 2in1 Zenia

Nyaman dipakai, bahan lembut, desain elegan dan praktis untuk ibadah sehari-hari.

Lihat Produk

Mukena Traveling Mini Pouch 2in1

Praktis dibawa bepergian, sudah termasuk tas dan sejadah mini.

Lihat Produk

Hampers Mukena Box

Cocok untuk hadiah pernikahan, ulang tahun, kelulusan dan berbagai acara spesial.

Lihat Produk

Mukena Katun Mikro Laser Cut Premium

Bahan adem, ringan, nyaman digunakan untuk aktivitas ibadah sehari-hari.

Lihat Produk

Comments

Popular posts from this blog

Tidak ada yang abadi di dunia ini

Tidak ada yang abadi di dunia ini Berbekallah, tidak ada yang abadi di dunia ini. semua akan ada akhirnya. Urusan dunia itu hanya mainan belaka. Ibarat orang berkuda di padang pasir, menemukan naungan dibawah pohon, dia berhenti berteduh. Tidak selamanya dia disitu, dia berteduh hanya sebentar beristirahat dan akan melanjutkan perjalanannya , dan segera pergi.Demikian naungan itu, gambaran dunia "yang kita singgahi"  yang kita hidup didalamnya, hanya sebentar. "innaa ja'alnaa maa 'alaa al-ardhi ziinatan lahaa linabluwahum ayyuhum ahsanu 'amalaan" ( Q 18:7) "Sesungguhnya kami (Allah) menjadikan segala apa di bumi hanya sebagai hiasan , untuk mengetahui manakah diantara kalian yang baik amalannya.". Jadi manusia jangan salah faham, untuk apa dia terlahir jadi manusia. Diayat yang lain ( banyak ), Allah berfirman, "sabbaha lillaahi maa fii alssamaawaati wamaa fii al-ardhi wahuwa al'aziizu alhakiimu ( Q 61 :1 ) ...

Ketika Raga Mulai Melemah: Ikhtiar, Doa, dan Kesabaran yang Menenangkan Hati

Ketika Raga Mulai Melemah: Ikhtiar, Doa, dan Kesabaran yang Menenangkan Hati Seiring bertambahnya usia, banyak dari kita mulai merasakan perubahan pada raga. Tubuh yang dahulu terasa ringan, kini mudah lelah. Gerak tidak lagi seluwes dulu, dan waktu istirahat pun terasa berbeda. Pada saat seperti inilah hati sering diuji: antara menerima dengan lapang, atau mengeluh dalam diam. Minyak Urut Dayak Kalimantan Pada fase usia tertentu, melemahnya raga sering hadir bersama keluhan-keluhan kecil yang terasa nyata. Ada yang merasakan lutut nyeri ketika berdiri terlalu lama, kaki mudah kram di malam hari, atau badan terasa kaku saat bangun tidur. Keluhan seperti ini tidak selalu berat, namun cukup untuk menguji kesabaran dan ketenangan hati, terutama ketika datang berulang-ulang. Sebagian orang bertanya dalam batin, “Apakah ini pertanda Allah tidak lagi memberi kekuatan?” Padahal, Al-Qur’an justru menjelaskan bahwa keadaan seperti ini adalah bagian dari sunnatullah. Allah Ta‘ala berfirman: اللّ...

"Fa aina tadzhabun", Maka mau kemana engkau pergi?

"Fa aina tadzhabun", Maka mau kemana engkau pergi? Semakin tua dunia ini semakin hijau royo royo, menjadikan orang terus mempersungguh mencari dunia. Sementara akhlaq dan agama makin jauh ditinggalkan padahal, "Fa aina tadzhabun", Maka mau kemana engkau pergi? Kemajuan teknologi mengiringi gemerlapnya dunia. Mengiyakan semua kehendak manusia. Orang dibuat bangga dengan barang baru. Dulu orang bepergian naik onta atau naik kuda, sekarang orang bepergian pakai mobil dari mobil mewah, kapal pesiar mewah, jet mewah dan semua tersedia dengan dilengkapi kemudahan dan kenyaman.Gilanya zaman paham maunya manusia. Sampai manusia terjun bebas didalamnya. Begitu juga dengan tempat tinggal, tidak cukup satu, sekarang orang punya rumah rumah mewah, untuk tempat tinggal, untuk istirahat, untuk bersenang senang dari rumah biasa sampai rumah bak istana yang gemerlapan yang assesorisnya aduhai membuat orang berdecak. Sarana prasarana juga ter...