Skip to main content

Mempertahankan kebiasaan Baik setelah Ramadhan.

 


Mempertahankan Kebiasaan Baik setelah Ramadhan

Jangan biarkan semangat ibadah hanya bertahan di bulan ini. Jadikan Ramadhan sebagai titik awal perubahan hidup yang lebih baik.

Bulan Ramadhan telah mengajarkan kita banyak hal—kesabaran, ketakwaan, dan kedisiplinan dalam beribadah. Namun, tantangan sesungguhnya datang setelah Ramadhan berakhir: mampukah kita mempertahankan kebiasaan baik yang telah kita bangun? Jangan biarkan semangat ibadah hanya menjadi kenangan Ramadhan, tetapi jadikan sebagai awal perubahan hidup yang lebih baik.

1. Melanjutkan Puasa Sunnah

Salah satu cara untuk menjaga kedekatan dengan Allah setelah Ramadhan adalah dengan melanjutkan puasa sunnah. Rasulullah ï·º bersabda:

"Barang siapa berpuasa Ramadan, kemudian diikuti dengan enam hari di bulan Syawal, maka pahalanya seperti berpuasa sepanjang tahun." (HR. Muslim)

Selain puasa Syawal, ada juga puasa Senin-Kamis, puasa Ayyamul Bidh (tanggal 13, 14, 15 bulan Hijriyah), dan puasa Daud yang sangat dianjurkan.

2. Menjaga Shalat Malam (Qiyamul Lail)

Di bulan Ramadhan, kita terbiasa melaksanakan shalat tarawih dan qiyamul lail. Jangan biarkan kebiasaan ini berhenti hanya karena Ramadhan telah usai. Allah berfirman:

"Dan pada sebagian malam, shalat tahajudlah kamu sebagai ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji." (QS. Al-Isra’: 79)

Shalat tahajud dan witir bisa tetap kita lakukan meskipun hanya beberapa rakaat. Keutamaannya sangat besar, terutama dalam memperkuat hati dan jiwa.

3. Menjaga Hubungan dengan Al-Qur'an

Selama Ramadhan, kita berusaha membaca dan mentadabburi Al-Qur'an lebih banyak. Jangan biarkan kebiasaan ini berhenti. Rasulullah ï·º bersabda:

"Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya." (HR. Bukhari)

Cobalah untuk tetap membaca Al-Qur’an setiap hari, meskipun hanya beberapa ayat. Lebih baik lagi jika kita memahami maknanya dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

4. Konsisten dalam Bersedekah

Ramadhan adalah bulan berbagi, di mana kita banyak bersedekah dan membantu sesama. Kebiasaan ini tidak seharusnya berhenti setelah Ramadhan. Rasulullah ï·º bersabda:

"Sedekah itu dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api." (HR. Tirmidzi)

Bersedekah bisa dalam bentuk uang, tenaga, ilmu, atau sekadar senyuman dan kebaikan kepada sesama.

5. Menjaga Lisan dan Hati

Di bulan Ramadhan, kita belajar menahan diri dari berkata buruk, bergunjing, dan marah. Setelah Ramadhan, kita harus tetap menjaga lisan agar tidak menyakiti orang lain. Rasulullah ï·º bersabda:

"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim)

Selain itu, menjaga hati dari penyakit seperti iri, sombong, dan dendam juga sangat penting untuk kesehatan jiwa.

Kesimpulan

Ramadhan bukan akhir dari perjalanan ibadah kita, tetapi awal dari perubahan menuju kehidupan yang lebih baik. Dengan mempertahankan kebiasaan baik seperti puasa sunnah, shalat malam, membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan menjaga lisan, kita bisa terus meraih keberkahan sepanjang tahun.

Semoga Allah memberi kita keistiqamahan dalam menjalankan amal shalih dan menjadikan kita hamba yang lebih baik setelah Ramadhan. Aamiin.


Comments

Popular posts from this blog

Tidak ada yang abadi di dunia ini

Tidak ada yang abadi di dunia ini Berbekallah, tidak ada yang abadi di dunia ini. semua akan ada akhirnya. Urusan dunia itu hanya mainan belaka. Ibarat orang berkuda di padang pasir, menemukan naungan dibawah pohon, dia berhenti berteduh. Tidak selamanya dia disitu, dia berteduh hanya sebentar beristirahat dan akan melanjutkan perjalanannya , dan segera pergi.Demikian naungan itu, gambaran dunia "yang kita singgahi"  yang kita hidup didalamnya, hanya sebentar. "innaa ja'alnaa maa 'alaa al-ardhi ziinatan lahaa linabluwahum ayyuhum ahsanu 'amalaan" ( Q 18:7) "Sesungguhnya kami (Allah) menjadikan segala apa di bumi hanya sebagai hiasan , untuk mengetahui manakah diantara kalian yang baik amalannya.". Jadi manusia jangan salah faham, untuk apa dia terlahir jadi manusia. Diayat yang lain ( banyak ), Allah berfirman, "sabbaha lillaahi maa fii alssamaawaati wamaa fii al-ardhi wahuwa al'aziizu alhakiimu ( Q 61 :1 ) ...

Ketika Raga Mulai Melemah: Ikhtiar, Doa, dan Kesabaran yang Menenangkan Hati

Ketika Raga Mulai Melemah: Ikhtiar, Doa, dan Kesabaran yang Menenangkan Hati Seiring bertambahnya usia, banyak dari kita mulai merasakan perubahan pada raga. Tubuh yang dahulu terasa ringan, kini mudah lelah. Gerak tidak lagi seluwes dulu, dan waktu istirahat pun terasa berbeda. Pada saat seperti inilah hati sering diuji: antara menerima dengan lapang, atau mengeluh dalam diam. Minyak Urut Dayak Kalimantan Pada fase usia tertentu, melemahnya raga sering hadir bersama keluhan-keluhan kecil yang terasa nyata. Ada yang merasakan lutut nyeri ketika berdiri terlalu lama, kaki mudah kram di malam hari, atau badan terasa kaku saat bangun tidur. Keluhan seperti ini tidak selalu berat, namun cukup untuk menguji kesabaran dan ketenangan hati, terutama ketika datang berulang-ulang. Sebagian orang bertanya dalam batin, “Apakah ini pertanda Allah tidak lagi memberi kekuatan?” Padahal, Al-Qur’an justru menjelaskan bahwa keadaan seperti ini adalah bagian dari sunnatullah. Allah Ta‘ala berfirman: اللّ...

"Fa aina tadzhabun", Maka mau kemana engkau pergi?

"Fa aina tadzhabun", Maka mau kemana engkau pergi? Semakin tua dunia ini semakin hijau royo royo, menjadikan orang terus mempersungguh mencari dunia. Sementara akhlaq dan agama makin jauh ditinggalkan padahal, "Fa aina tadzhabun", Maka mau kemana engkau pergi? Kemajuan teknologi mengiringi gemerlapnya dunia. Mengiyakan semua kehendak manusia. Orang dibuat bangga dengan barang baru. Dulu orang bepergian naik onta atau naik kuda, sekarang orang bepergian pakai mobil dari mobil mewah, kapal pesiar mewah, jet mewah dan semua tersedia dengan dilengkapi kemudahan dan kenyaman.Gilanya zaman paham maunya manusia. Sampai manusia terjun bebas didalamnya. Begitu juga dengan tempat tinggal, tidak cukup satu, sekarang orang punya rumah rumah mewah, untuk tempat tinggal, untuk istirahat, untuk bersenang senang dari rumah biasa sampai rumah bak istana yang gemerlapan yang assesorisnya aduhai membuat orang berdecak. Sarana prasarana juga ter...